Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penampakan PLTD Kapasitas 101 Megawatt yang 'Setrum' MRT Jakarta

Yohana Artha Uly , Jurnalis-Kamis, 08 Agustus 2019 |17:27 WIB
Penampakan PLTD Kapasitas 101 Megawatt yang 'Setrum' MRT Jakarta
Foto: PLTD Senayan untuk MRT Jakarta
A
A
A

JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) secara khusus untuk memenuhi kebutuhan listrik Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Hal ini sekaligus mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik seperti pada Minggu 4 Agustus 2019.

Baca Juga: Revisi Aturan, Kompensasi Mati Listrik Bisa Naik dari 30% Jadi 100%

Pembangkit yang dibangun di Senayan, Jakarta itu memiliki kapasitas listrik sebesar 101 megawatt (MW) yang dibangun di atas tanah seluas 27.000 meter persegi (m2). MRT Jakarta saat ini memiliki kontrak pasokan listrik sebesar 60 MW per hari.

PLTD untuk MRT Jakarta

Dalam kesempatan mengunjungi PLTD Senayan, Direktur Regional Jawa Barat Banten PLN Haryanto W.S. menjelaskan, pembangunan konstruksi sudah belangsung sejak Juni 2018 lalu. Dengan membutuhkan 15 bulan waktu pembangunan, ditargetkan proyek ini selesai sebelum Hari Listrik Nasional yang jatuh pada 27 Oktober 2019.

Baca Juga: Ombudsman Sebut Kompensasi yang Diberikan PLN Terlalu Kecil

"Saat ini progres pembangunannya sudah 95%. Jadi PLTD Senayan ini khusus untuk backup kebutuhan listrik MRT Jakarta," jelasnya di PLTD Senayan, Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Jika pembangunan selesai, maka pada akhir Oktober 2019 MRT Jakarta memiliki satu pembangkit pasokan utama listrik dan dua pembangkit cadangan. Pasokan listrik utama berasal dari Subsistem Gandul-Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah.

PLTD untuk MRT Jakarta

Kemudian Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW menjadi cadangan pertama untuk pasokan listrik MRT. Cadangan kedua yakni pasokan listrik dari PLTD Senayan.

Dengan pengamanan berlapis ini, Haryanto memastikan tak ada lagi MRT Jakarta mengalami mati listrik. Sebab jika sumber utama dan cadangan pertama mati, maka ada sumber listrik dari PLTD Senayan.

PLTD untuk MRT Jakarta

"Secara teoritis probabilitas kemungkinan 6 mesin PLTD mengalami kerusakan itu sangat kecil. Dalam kondisi emergency (blackout) ini punya kemampuan maksimal 8-10 jam. Tentunya kalau ada mati listrik, diharapkan bisa cepat terselesaikan," jelasnya.

Menurutnya, alasan menggunakan PLTD sebagai pembangkit cadangan MRT Jakarta, yakni meski diesel akan lebih cepat beroperasi dan cepat sinkron (masuk system) dibandingkan mesin lainnya.

"Jadi ini pembangkit yang fast respons, proses start-nya sangat cepat. Sehingga normalisasi di perlukan dalam orde menit bukan lagi jam," kata dia.

Info

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement