JAKARTA - Sebelum Putera Mahkota Emirat Abu Dhabi Sheik Mohammed bin Zayed Nahya bertolak dari Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan sempat melakukan percakapan yang hangat. Percakapan tersebut tidak hanya hangat, namun juga pribadi karena terjadi di dalam kendaraan menuju Bandara Soekarno Hatta.
Kala itu Pangeran UEA, yang juga Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata di negaranya, telah selesai melakukan kunjungan ke negaraan dengan Presiden Jokowi. Percakapan yang informal tersebut ternyata bukan sebatas menghabiskan waktu menuju bandara. Namun ternyata sangat mendalam bagi Menko Luhut.
Baca Juga: Menko Luhut Sebut Lelang Ikan Online Permudah Nelayan
Apa saja yang dibicarakan Menko Luhut dengan Pangeran UEA sepanjang perjalanan? Berikut selengkapnya seperti dikutip dari akun resmi Facebook milik Menko Luhut, seperti dikutip Kamis (15/8/2019).
Too Good To Be True.
Kadang-kadang perjalanan hidup ada hal-hal yang tidak diduga, bisa terjadi di luar perkiraan. Yah, kadang-kadang saya sering menyeletuk, it's to good to be true.

Ceritanya dimulai ketika akhir Juli 2019 lalu, Presiden Joko Widodo memerintahkan kami agar mempersiapkan diri dengan materi-materi perjanjian dan investasi yang akan dilakukan antara RI dengan Persatuan Emirat Arab (United Arab Emirate, UAE) berkaitan dengan kunjungan Putera Mahkota Emirat Abu Dhabi, sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UAE Sheik Mohammed bin Zayed Nahyan ke Indonesia.
Pak Jokowi bahkan menyelenggarakan rapat terbatas menyangkut hal ini, dan beliau sangat serius memperhatikan detail perjanjian atau hal-hal yang ditawarkan.
Baca Juga: Menko Luhut Resmikan Pelelangan Ikan Daring Pertama di RI
Pak Presiden pernah bercerita kepada saya bahwa ia dan Sheik Mohammed bin Zayed Nahyan mempunyai hubungan pribadi yang sangat istimewa. Ketika Presiden berkunjung ke Abu Dhabi, sang pangeran sendiri menyambut Pak Jokowi di tangga pesawat, dan dengan melewati protokol, langsung mengajak Presiden RI naik mobil pribadinya yang dikendarai sendiri. Mobil mengebut di jalanan tanpa pengawal, dan sang pangeran kemudian mengajak tamu Indonesia itu untuk makan di sebuah restoran!
Tak mengherankan dalam kunjungan balasan ke Indonesia Presiden Jokowi menyambut tamunya sendiri di tangga pesawat pribadi Sheik Mohammed. Pesawat Boeing 777 pribadinya tidak bisa mendarat di pangkalan udara Halim Perdanakusuma saking besarnya, dan harus mendarat di bandara Soekarno-Hatta.
Setelah upacara penyambutan resmi di halaman Istana Bogor, saya saksikan sendiri betapa kedua petinggi tersebut sangat akrab dan berbicara dengan terbuka mengenai berbagai hal. Pendeknya dari A hingga Z dibicarakan dengan serius oleh keduanya. Tentu saja ada acara resmi dan semacam upacara penandatanganan kerjasama dan investasi yang jumlah totalnya mencapai Rp136 trilyun.

Selesai seluruh acara di Istana Bogor, Sheik Mohammed bin Zayed Nahyan pulang ke negaranya. Presiden Jokowi memerintahkan saya sebagai escort untuk menemaninya ke bandara Soekarno Hatta. Jadi saya satu mobil dengan Sheik yang saya panggil Your Royal Highness.
Di perjalanan selama 1 jam dan 20 menit itu, saya baru tahu bahwa sang Pangeran itu orang yang sangat ramah dan bicaranya terbuka tanpa basa-basi. Begitu duduk di sebelahnya, dia langsung bertanya dalam Bahasa Inggris, “Jadi tahun berapa Anda lulus dari Akademi Militer..?” Saya jawab, “Saya lulus dari Akademi Militer tahun 1970!”. Dia jawab, “Well, saya lulus dari Sandhurst tahun 1979… So you are my senior!” katanya sambil memberi salut militer ke saya.
Saya tertawa saja, tetapi respek pada gaya bicaranya.
Memang sang Pangeran Sheik Mohammed dikirim oleh ayahnya untuk menempuh pendidikan di Akademi Militer Inggris yang terkenal, Royal Military Academy Sandhurst. Selain itu ia menempuh kursus perang tank dan belajar jadi pilot helicopter militer.
Pembicaraan kami berdua semakin asyik, dan menggunakan “bahasa militer” : terbuka, tajam dan tanpa basa-basi.

Saya jadi ingat dengan sahabat saya, Menteri Pertahanan AS (waktu itu) Jenderal (Purn) James Mattis. Saya beberapa tahun lalu diundang ke Pentagon untuk berbicara berdua saja. Ia adalah jenderal tempur eks marinir, dan tahu betul saya perwira Special Forces yang lulus dari Amerika.
Kami saling menghormati karir militer masing-masing dan berbicara “gaya militer” sampai-sampai Dubes RI di Amerika, yaitu Pak Sonny (Budi Bowoleksono) memandang cemas kearah saya karena ngomongnya kami berdua seperti lagi duduk di pub saja…!
Dengan Sheik Mohammed saya juga asyik bicara sehingga tanpa terasa sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta. Sebelum berpisah ia sempat memberikan nomor HP pribadinya. “Just call me anytime …”katanya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.