nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Tekan Dolar AS ke Level Rp14.237

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 29 Agustus 2019 17:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 29 278 2098234 rupiah-tekan-dolar-as-ke-level-rp14-237-xXSUDp7xzG.jpg Ilustrasi Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan har ini. Rupiah pada sore ini bergerak di level Rp14.200-an per USD.

Bloomberg Dollar Index pada Kamis (29/8/2019) pukul 17.20 WIB, menunjukkan Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 21,5 poin atau 0,15% ke Rp14.237 per USD. Hari ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.237-Rp14.262 per USD.

Sementara itu, YahooFinance mencatat Rupiah menguat 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.230 per USD. Mata uang Garuda itu bergerak di kisaran Rp14.230 per USD-Rp14.260 per USD.

Sedangkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan posisi Rupiah di level Rp14.254 per USD. Menguat dibandingkan penutupan kemarin yang di level Rp14.263 per USD.

Baca Juga: Perbandingan KPR Milenial dari Tiga Bank Besar

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menyatakan, penguatan Rupiah pada hari ini dipengaruhi kondisi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyatakan, pejabat perdagangan AS mengharapkan negosiator China berkunjung ke Washington, untuk membahas relasi perdagangan kedua negara itu.

"Mnuchin telah melakukan kontak dengan Yi Gang, Gubernur Bank Rakyat China, untuk membahas mengenai pandangan AS yang menganggap adanya manipulasi yuan," ujar Ibrahim dalam risetnya, Kamis (29/8/2019).

Baca Juga: Investor Inggris Bakal Jor-joran Investasi di Indonesia

Kendati demikian, kurs Rupiah juga mendapat sentimen negatif oleh kondisi di Inggris, di mana Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menskors parlemen selama 5 minggu, yang akan dibuka tanggal 14 Oktober. Langkah ini bahkan sudah mendapatkan restu dari Ratu Elizabeth.

"Langkah Johnson ini dipandang sebagai taktik untuk mencegah para anggota parlemen Inggris yang berambisi untuk membatasi perdebatan terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun (no-deal Brexit) sebelum batas waktu Brexit 31 Oktober," jelas dia.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini