nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cukai Naik 23%, Taruhannya Inflasi dan Marak Rokok Ilegal

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 20:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 14 20 2104878 cukai-naik-23-taruhannya-inflasi-dan-marak-rokok-ilegal-M21YI2ZpCH.jpg Ilustrasi Rokok (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai keberlangsungan industri hasil tembakau bergantung pada regulasi atau aturan yang tepat. Apabila tidak tepat, industri akan kalah dengan mekanisme pasar.

Peneliti Senior Indef Enny Sri Hartati mengatakan, Indonesia memiliki beragam jenis rokok dan untuk mengakomodir keragaman jenisnya. Aturan PMK Nomor156 Tahun 2018 dinilai sangat tepat, sebab, ada 10 golongan rokok yang dipertahankan.

"PMK tersebut layak untuk dipertahankan. Keragaman jenis rokok tadi juga berkaitan dengan serapan tembakau dalam negeri," ujar Enny, dalam keterangannya, Sabtu (14/9/2019).

Baca Juga: Presiden Jokowi Minta Peningkatan Impor Sampah Plastik Disikapi Hati-Hati

Namun, rencana pemerintah yang akan menggabungkan tiga jenis rokok, yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) atau simplifikasi cukai rokok, dinilai kurang tepat.

Menurutnya, rencana simplifikasi harus mengakomodir keinginan pembuat regulasi dan para pelaku industri rokok. Termasuk di dalam pengakomodasian itu adalah besaran tarif cukai.

Baca Juga: Setelah Rokok, Kemenkeu Rampungkan Cukai Plastik

Dia menilai. rokok memang harus dikendalikan, namun kenaikan cukai harus penuh perhitungan karena rokok menyumbang inflasi. "Apabila kenailan cukai berlebihan, justru akan makin sulit mengendalikan karena konsumen akan lari ke rokok ilegal," kata Enny. 

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini