nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penjualan Ritel AS Tak Mampu Hijaukan S&P 500

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 10:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 14 278 2104764 penjualan-ritel-as-tak-mampu-hijaukan-s-p-500-v8nO7NYC8z.jpg Ilustrasi Wall Street (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat. Hal tersebut terjadi karena para pelaku pasar masih mencerna data penjualan ritel terbaru yang di atas ekpetasi pasar dan adanya rebound di data sentimen konsumen.

Sejumlah saham mengalami kenaikan, namun S&P 500 menutup perdagangan pekan ini dengan melemah tipis. Lantaran tertekan pelemahan saham Apple ditengah mendinginnya ketegangan perdagangan AS dan China.

Mengutip Reuters, Sabtu (014/9/2019), indeks Dow Jones Industrial Average naik 37,07 poin atau 0,14% ke level 27.219,52. Indeks S&P 500 turun 2,18 poin atau 0,07% ke 3,007.39 dan indeks Nasdaq Composite turun 17,75 poin atau 0,22% menjadi 8.176,71.

IHSG Ditutup Naik 16 Poin ke 6.042 pada Selasa 28 Agustus 2018

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, lima ditutup di zona merah, dengan real estate menderita persentase kerugian terbesar yakni 1,3%.

Sedangkan industri yang rentan terhadap tarif membantu menjaga blue-chip Dow di wilayah positif, yang kini telah naik dalam delapan sesi berturut-turut, kemenangan beruntun terpanjang sejak Mei 2018.

Baca Juga: Penjualan Ritel AS yang Kuat Buat Wall Street Dibuka Varian

Ketiga indeks saham utama AS membukukan kenaikan mingguan ketiga beturur-turut, didorong tanda-tanda potensi mencairnya ketegangan perang dagang, yang sebelumnya telah mencengkeram pasar selama berbulan-bulan.

Apple Inc adalah hambatan terbesar pada rata-rata saham utama, karena jatuh 1,9% setelah Goldman Sachs memangkas target harga untuk saham perusahaan pembuat iPhone tersebut.

"Apple memang menahan rata-rata," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York.

Perang dagang yang mulai mereda itu didorong pernyataan dari Beijing yang akan mengecualikan beberapa produk pertanian AS dari tarif tambahan, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya terbuka untuk kesepakatan sementara. Keduanya akan melakukan negosiasi pada bulan depan di Washington.

Pembukaan Pagi Ini IHSG Anjlok Nyaris 1%

Di sisi lain, data penjualan ritel AS di Agustus 2019 meningkat dua kali lipat dari yang diperkirakan analis. Menurut Departemen Perdagangan, ini menunjukkan bahwa belanja konsumen yang kuat akan terus mendukung ekspansi ekonomi AS.

"Konsumennya cukup ceria. Memasuki musim liburan, konsumen kemungkinan akan terus berbelanja, dan itu menjadi pertanda baik," ujar Cardillo.

Baca Juga: Wall Street Menguat di Tengah Penundaan Tarif Perang Dagang dan Stimulus ECB

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini