Bagaimana Nasib Harga Minyak Pasca-Kilang Aramco Diserang Drone?

Minggu 15 September 2019 13:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 15 320 2105031 bagaimana-nasib-harga-minyak-pasca-kilang-aramco-diserang-drone-hsI9J8yODs.png Bagaimana Nasib Harga Minyak Pasca-Serangan Drone (Foto: Reuters)

JAKARTA - Saudi Aramco tidak hanya merupakan produsen minyak terbesar di dunia, tapi juga perusahaan paling kaya di dunia.

Ladang minyak Khurais menghasilkan sekitar 1% dari persediaan minyak dunia, dan Abqaiq adalah fasilitas terbesar perusahaan tersebut dengan kapasitas untuk memproses 7% dari pasokan global. Gangguan singkat atau sebagian saja dapat mempengaruhi perusahaan, dan pasokan minyaknya, karena skala produksinya.

 Baca Juga: Harga Minyak Jatuh Usai Keputusan Bank Sentral Eropa

Sejumlah laporan mengatakan bahwa separuh dari produksi minyak Arab Saudi bisa berhenti sama sekali akibat serangan-serangan ini.

Arab Saudi memproduksi 10% pasokan minyak mentah dunia. Pemangkasan setengahnya bisa berdampak signifikan pada harga minyak pada Senin mendatang ketika pasar dibuka.

 Baca Juga: OPEC Waspadai Melimpahnya Stok Minyak Mentah pada 2020

Suksesnya serangan dron mengungkap kerentanan infrastruktur Aramco, saat perusahaan tersebut tengah berusaha menunjukkan citra terbaiknya sambil bersiap-siap untuk menjual sahamnya di pasar saham.

Dan peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan di Jazirah Arab dapat membahayakan pasokan minyak dunia, berpotensi mengancam seperlima dari pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz.

 Kilang Minyak

Siapakah para pemberontak Houthi?

Gerakan pemberontak Houthi yang berpihak pada Iran terus memerangi pemerintah Yaman dan koalisi yang dipimpin Saudi.

Yaman telah dilanda perang sejak 2015, ketika Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi diusir dari ibu kota Sanaa oleh Houthi.

 Kilang Minyak

Arab Saudi mendukung Presiden Hadi, dan memimpin koalisi negara-negara di wilayah untuk melawan para pemberontak tersebut.

Koalisi melancarkan serangan udara hampir setiap hari, sementara Houthi sering menembakkan rudal ke Arab Saudi.

Sarea, juru bicara militer kelompok Houthi, mengatakan kepada al-Masirah bahwa operasi terhadap target-target Saudi akan "hanya akan menjadi semakin luas dan semakin menyakitkan, selama agresi dan blokade mereka terus berlanjut".

Pejuang Houthi disalahkan atas serangan pesawat tanpa awak terhadap fasilitas pencairan gas alam Shaybah bulan lalu, dan pada fasilitas minyak lainnya pada bulan Mei.

Ada sumber-sumber ketegangan lain di kawasan itu, yang seringkali berasal dari persaingan antara Arab Saudi dan Iran. Demikian dikutip BBC Indonesia, Jakarta, Minggu (15/9/2019).

Arab Saudi dan AS sama-sama menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk pada bulan Juni dan Juli lalu, tuduhan yang dibantah Teheran.

Pada Mei, empat tanker, dua di antaranya berbendera Saudi, dirusak oleh ledakan di perairan teritorial UEA di Teluk Oman.

Ketegangan di jalur pelayaran vital memburuk ketika Iran menembak jatuh dron pengintai AS di Selat Hormuz pada Juni, yang sebulan kemudian membuat Pentagon mengumumkan pengerahan pasukan AS ke Arab Saudi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini