nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Era Digitalisasi, Kantor Cabang Dinilai Tak Diperlukan Lagi

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 06 November 2019 19:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 06 278 2126613 era-digitalisasi-kantor-cabang-dinilai-tak-diperlukan-lagi-q9BbAALuG9.jpg Perbankan (Shutterstock)

JAKARTA - Kalangan perbankan merespons permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membuka kantor-kantor cabang di daerah-daerah pelosok Indonesia. Hal ini untuk mendorong pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di perdesaan guna tumbuh menjadi usaha yang besar.

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja menyatakan, pada dasarnya pembukaan kantor cabang di pelosok tidak akan mendorong kinerja bisnis UMKM. Lantaran, prinsipnya bisnis masyarakat di suatu wilayah mesti berkembang lebih dahulu sehingga perbankan akan masuk ke sana.

 Baca juga: Presiden Jokowi Minta Bankir Bangun Kantor Cabang di Wamena

"Jadi jangan dibalik menjadi bank membuat bisnis, enggak bisa itu, terbalik menurut saya. Makanya saya pikir harus ada kerjasama antar institusi yang melakukan spesialisasi," ujarnya dalam acara Indonesia Banking Expo (Ibex) 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

 BCA

Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat adanya digitalisasi perbankan sehingga kantor secara fisik tak lagi diperlukan. Jahja bercermin pada tren transaksi yang terjadi di BCA, di mana pada tahun 2007 71% transaksi nasabah berlangsung lewat ATM dan 17% melalui kantor cabang.

 Baca juga: Jokowi Kumpul Bareng Ratusan Bankir, Bahas Apa?

Tapi kini, di tahun 2019 transaksi nasabah melalui ATM hanya 23% dan melalui kantor cabang tinggal 1,8%. Sisanya, mayoritas transaksi melalui mobile banking dan internet banking mencapai 75%.

"Jadi cabang yang tadinya 17% sekarang tinggal 1,8%. Begitu cepat perubahan sehingga sepertinya cabang tak begitu diperlukan lagi," ungkap Jahja.

 Baca juga: Perbankan Sulit Dongkrak Perekonomian RI di Tengah Ketidakpastian Global

Menurutnya, hal yang terpenting adalah bagaimana pembiayaan bisa tersalurkan hingga ke UMKM di daerah, bukan persoalan siapa yang menyalurkan. Lantaran, jika semua bank mengambil pasar bisnis yang sama yakni masuk ke perdesaan maka akan terjadi persaingan yang sangat tinggi.

"Kalau semua masuk desa lantas apa yang terjadi? Persaingan bank, rebutan karyawan, penyediaan sarana dan prasarana," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sunarso menambahkan, bisnis perbankan tidak bisa digeneralisir untuk masuk segmen yang sama. Pasalnya, masing-masing bank memiliki spesialisasi tertentu dalam menjalankan bisnisnya.

"Semua bank sepakat tak akan menaruh semua risiko di satu basket. Tapi tak semua bank mampu membangun kompetensi di semua segmen. Makanya kita bagi tugas saja," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini