nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tips Investasi, Begini Cara Memilih Saham

Sabtu 23 November 2019 13:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 23 278 2133530 tips-investasi-begini-cara-memilih-saham-rGZvmfYCYb.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Seseorang disebut sebagai investor pasar modal jika ia telah membuka rekening di perusahaan sekuritas, dan memiliki nomor SID (Single Idenfication). Langkah selanjutnya adalah mulai berinvestasi. Pertama-tama, investor harus mendepositkan sejumlah dana di Rekening Dana Investor (RDI) yang dikelola perbankan. Saat ini di industri pasar modal ada 9 bank pembayar untuk penyelesaian transaksi di pasar modal, dan 17 bank RDI. Investor bisa memilih salah satu dari bank-bank tersebut.

Lalu, saham-saham mana saja yang harus dipilih? Investor lebih dahulu bisa memilih berdasarkan skala usaha perusahaan yang sahamnya diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham perusahaan besar, dikelompokkan ke dalam saham blue chip atau diistilahkan dengan Big Cap (big capitalization) saham dengan kapitalisasi pasar yang besar.

Baca juga; Peraturan Perdagangan di Papan Akselerasi, Apa Saja?

Kapitalisasi pasar dihitung dari harga saham di pasar dikalikan dengan jumlah saham yang tercatat di BEI. Umumnya harga saham big cap relative mahal, karena reputasi dan kinerja perusahaannya yang sudah besar. Per September 2019, lima saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan harga saham Rp30.350 per lembar saham, dan kapitaliasi pasar Rp740,8 triliun.

Berikutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan harga per lembar saham Rp4.180 dan nilai kapitalisasi pasar Rp510,4 triliun. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TKLM) dengan harga Rp4.310 per lembar, dengan kapitalisasi pasar Rp427 triliun. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan harga saham Rp47.000 per lembar saham. Dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan harga saham Rp6.975 per lembar.

Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen  

Tentu saja perlu modal yang cukup besar untuk membeli saham-saham blue chip, karena investor minimal harus membeli 1 lot atau 100 lembar saham setiap kali bertransaksi (jual-beli). Kelebihannya, harga saham blue chip cenderung mengikuti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Karena saham-saham blue chip memberikan kontribusi terbesar dalam perhitungan IHSG. Investor akan mudah mendapatkan perkirakan IHSG dari berbagai analis dan berbagai hasil riset pasar modal yang dipublikasi atau yang diberikan perusahaan sekuritas kepada investor.

Saham-saham blue chip juga cenderung lebih rendah risikonya, karena perusahaannya sudah mature atau sudah berkembang. Risiko perusahaan untuk mengalami kerugian relatif kecil. Namun, kenaikan harga sahamnya juga relatif stabil, tidak terlalu naik tinggi. Saham blue chips biasa juga disebut saham papan atas (first layer).

IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini

Sementara investor yang lebih spekulatif, yang berharap pada kenaikan harga saham yang tinggi, bisa memilih saham-saham second layer atau lapis kedua. Saham-saham ini memiliki harga yang relatif lebih rendah dan atau jumlah saham tercatat yang lebih sedikit. Perusahaan sudah cukup mapan tetapi masih banyak melakukan ekspansi usaha. Sehingga apabila perusahaan berhasil meningkatkan kinerja berkat ekspansi usahanya, maka harga saham bisa meningkat tinggi. Sebaliknya, jika ekspansi usaha tidak berhasil atau tidak sesuai ekspektasi, maka harga saham bisa menurun.

Masih ada lagi, saham-saham perusahaan lapis ketiga (third layer) yaitu perusahaan yang masih membukukan kerugian atau sudah untung tetapi masih dalam proses pengembangan usaha. Harga saham di kelompok ini relatif murah, bisa di bawah Rp100 per lembar, dengan jumlah saham yang juga masih sedikit. Harga saham lapis ketiga bisa naik sangat tinggi, jika perusahaannya berkembang, tetapi memiliki risiko kebangkrutan jika tidak berhasil dalam mengembangkan usahanya.

IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini

BEI membagi saham-saham yang tercatat di tiga papan perdagangan. Papan utama, papan pengembangan dan papan akselerasi. Masing-masing papan ini memiliki kriteria masing-masing. Isi sahamnya kurang lebih sama dengan pembagian istilah di atas. Yang terpenting, ketika investor memilih saham mana yang hendak dibeli, maka carilah perusahaan yang sektor usahanya paling dimengerti atau dipahami bisnisnya.

BEI membagi sektor usaha perusahaan ke dalam sembilan sektor usaha dan 99 sub sektor usaha. Sehingga investor bisa dengan mudah memilih saham-saham yang hendak dipilihnya dengan mencari di kategori sektor yang ada di data perdagangan saham BEI. (TIM BEI)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini