nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penerimaan Pajak Baru 73,5% Jelang Akhir Tahun, Kurang Rp474 Triliun

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 19 Desember 2019 17:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 19 20 2143903 penerimaan-pajak-baru-73-5-jelang-akhir-tahun-kurang-rprp474-triliun-KZZT5xU9xh.jpg Pajak (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan perpajakan mencapai Rp1.312,4 triliun hingga akhir November 2019. Realisasi ini setara 73,5% dari target dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp1.786,4 triliun.

Dengan demikian, di sisa satu bulan terakhir jelang tutup tahun, penerimaan negara melalui perpajakan masih mengalami kekurangan Rp474 triliun. Adapun nilai realisasi tersebut tercatat hanya tumbuh 0,8% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1.301,5 triliun.

Baca Juga: RUU Omnibus Law Perpajakan Diserahkan ke DPR Akhir Pekan Ini

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, penerimaan perpajakan utamanya tertekan oleh Pajak Penghasilan (PPh) migas yang pertumbuhannya terkontraksi -11,5% dari periode yang sama di tahun lalu. Penerimaan sektor ini tercatat sebesar Rp52,9 triliun, padahal pada November 2018 mencapai 59,8 triliun.

"Ini disebabkan karena lifting migas yang rendah, harga minyak mentah juga dibawah asumsi, serta kurs Rupiah yang menguat dibandingkan asumsi. Ini sangat mempengaruhi PPh migas," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kantor Kemenkeu, Jakarta, (19/12/2019).

sri mulyani

Sementara itu, penerimaan dari pajak non migas tercatat mencapai Rp1.083,3 triliun, atau setara 71,7% dari target yang sebesar Rp1.511,4 triliun. Pajak sektor ini tercatat tumbuh 0,6% dari realisasi tahun lalu yang sebesar 1.076,9 triliun.

"Jadi untuk penerimaan pajak dari sektor non migas cukup baik di tengah gempuran pelemahan ekonomi global," imbunya.

Secara rinci, penerimaan pajak non migas terdiri dari PPh non migas sebesar Rp615,7 triliun atau tumbuh 0,6% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Lalu dari pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp441,2 triliun atau mengalami kontraksi -4,1% pajak bumi dan bangunan (PBB) sebesar Rp20,4 triliun yang tumbuh 8,9%, serta pajak lainnya sebesar Rp6 triliun atau terkontraksi -9,2%.

Baca Juga: Fakta-Fakta Omnibus Law, RUU yang Diajukan ke DPR

Kemudian penerimaan perpajakan juga berasal dari bea dan cukai sebesar Rp176,2 triliun hingga akhir November, atau mencapai 84,4 dari target di APBN yang sebesar Rp208,8 triliun. Realisasi ini juga tercatat tumbuh 8,9% dari periode di tahun lalu yang sebesar Rp164,9 triliun.

Secara rinci, penerimaan dari cukai sebesar Rp139,5 triliun, yang tercatat tumbuh 13,1% dari realisasi tahun lalu. Sedangkan dari bea masuk sebesar Rp33,6 triliun yang tumbuh terkontraksi -5% dan bea keluar sebesar Rp3,2 triliun yang pertumbuhannya terkontraksi dalam -48,5%.

"Jadi dari penerimaan bea cukai, mayoritas hanya dari cukai yang tumbuhnya dobel digit, jauh lebih tinggi dari bea masuk dan keluar yang pertumbuhannya terkontraksi," kata Sri Mulyani.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini