nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sederet Pemicu Mahalnya Harga Gas Industri, dari Ongkos Transportasi hingga Margin!

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 09 Januari 2020 16:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 09 320 2151135 sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin-rnVFvynnjq.jpg Pipa Gas PGN (Foto: Okezone.com/Feby)

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut ada beberapa penyebab yang menjadikan harga gas industri di Indonesia mahal.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Setiawan Handoko mengatakan, ada banyak komponen yang membuat harga gas di pelaku industri menjadi tinggi.

"Seperti komponen transportasi, kemudian ada toll fee termasuk margin dari penjualan di midstream," ujar dia di Gedung City Plaza, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Baca Juga: Menteri ESDM Pilih Terapkan Aturan DMO Baru untuk Turunkan Harga Gas

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan secara umum harga gas nasional di hulu sekitar USD5,4 per MMBTU.

"Kalau on shore sekitar USD4 per MMBTU. Kemudian yang di off shore agak lebih tinggi sedikit. Berbeda-beda memang. Average kita di USD5,4 per MMBTU," ungkap dia.

Baca Juga: Menko Luhut Targetkan Harga Gas Turun Jadi USD6/MMBTU di Maret

Dia menjelaskan, dalam alur distribusi harga gas bisa berbeda-beda. Harga gas akan semakin mahal jika membeli melalui calo.

"Namun, dalam perjalanannya sampai di industri kalau yang langsung dengan Kontrkator Kontrak Kerja Sama (K3S) bisa USD6-USD7 per MMBTU. Yang lewat trading atau calo bisa USD8-9 MMBTU," ungkap dia.

Dia juga menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan kajian mengenai kemungkinan penurunan harga gas di setiap tempat eksplorasi gas.

"Ada 3 opsi antara lain bagian negara yang kemungkinan bisa dikurangi itu yang kita coba exercise, porsi-porsi pajak atau insentif lain sehingga bisa menekan harga gas ini yang kita lakukan. Harus blok per blok. Kondisi keekonomisan kalau di upstream selalu diaudit sama BPK," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, gas bukan semata-mata sebagai komoditas, tapi juga modal pembangunan yang akan memperkuat industri nasional. Ia menyebutkan, ada enam sektor industri yang menggunakan 80% volume gas Indonesia, baik itu pembangkit listrik, industri kimia, industri makanan, industri keramik, industri baja, industri pupuk, industri gelas.

"Artinya ketika porsi gas sangat besar bagi struktur biaya produksi maka harga gas akan sangat berpengaruh pada daya saing produk industri kita di pasar dunia. Kita kalah terus poduk-produk kita gara-gara harga gas kita yang mahal," kata Presiden Jokowi.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini