nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri ESDM Pilih Terapkan Aturan DMO Baru untuk Turunkan Harga Gas

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 09 Januari 2020 13:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 09 320 2151020 menteri-esdm-pilih-terapkan-aturan-dmo-baru-untuk-turunkan-harga-gas-LKvbpL3LOy.jpg Menteri ESDM Arifin Tasrif (Foto: Dok Polri)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah menyoroti harga gas yang mahal di Indonesia, padahal itu menjadi komponen penting untuk kemajuan industri dalam negeri. Dia pun memberi tiga opsi untuk jajarannya bisa menurunkan harga gas dalam tiga bulan ke depan, yakni pemangkasan jatah pemerintah, penerapan domestic market obligation (DMO), dan melakukan impor gas.

Merespons hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyatakan, pihaknya memilih opsi pemangkasan jatah pemerintah dan penerapan DMO untuk menurunkan harga gas.

 Baca juga: Harga Gas Industri Turun Bakal Gerus Penerimaan Negara?

"Kami lakukan evaluasi bagaimana pelaksanaannya, karena penurunan (harga gas) berarti harus ada yang disesuaikan. Di samping itu, kami memang perlu mengamankan kebutuhan dalam negeri, DMO," katanya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

 Pipa Gas

Menurutnya, opsi melakukan impor gas belum tepat untuk dilakukan, lantaran malah akan memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang selama ini jadi permasalahan Indonesia.

 Baca juga: Menko Luhut Targetkan Harga Gas Turun Jadi USD6/MMBTU di Maret

"Karena kalau impor maka akan menghadapi problem lain yaitu CAD, kalau itu terus meningkat maka akan menyebabkan tekanan pada nilai tukar Rupiah. Nah itu yang tidak kami harapkan," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Arifin, pihaknya saat ini sedang melakukan pemetaan pada sumber-sumber gas di Indonesia, termasuk juga pemetaan tata kelola dan tata niaga penyaluran gas tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan melihat unsur-unsur lainnya yang dapat mendorong penurunan harga gas.

 Baca juga: Tak Semua Mahal, Harga Gas di Indonesia USD5/MMBTU

"Intinya ada keuntungan wajar bagi pengusaha dan pemerintah mendapatkan harga gas yang kompetitif, sehingga bisa mendorong produksi industri nasional," ujarnya.

Menurutnya, dengan penurunan harga gas kedepannya, diharapkan ongkos produksi di industri nasional bisa lebih efisien sehingga mampu bersaing di pasar internasional. Ujung-ujungnya, ekspor produk-produk Indonesia pun bisa meningkat.

"Sehingga bisa menghasilkan devisa. Jadi tahap satu ini kita kerjakan dahulu, sehingga bulan Maret bisa selesai," katanya.

Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan kekesalannya karena mahalnya harga gas di Tanah Air. Menurutnya, ada 6 sektor industri yang menggunakan 80% volume gas Indonesia, yakni pembangkit listrik, industri kimia, industri makanan, industri keramik, industri baja, industri pupuk, industri gelas.

Dia pun menginginkan harga gas bisa turun dalam waktu tiga bulan atau di Maret 2020 menjadi USD6 per MMBTU.

"Artinya ketika porsi gas sangat besar bagi struktur biaya produksi maka harga gas akan sangat berpengaruh pada daya saing produk industri kita di pasar dunia. Kita kalah terus produk-produk kita gara-gara harga gas kita yang mahal,” kata Jokowi saat memberikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) di Kantor Presiden, Jakarta, dikutip dari laman Setkab.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini