nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi Penasaran Bagaimana Kelapa Sawit Jadi B20, Ini Jawabannya

Hairunnisa, Jurnalis · Kamis 30 Januari 2020 20:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 30 320 2160887 presiden-jokowi-penasaran-bagaimana-kelapa-sawit-jadi-b20-ini-jawabannya-NG8ftT0322.jpg Biodiesel (Reuters)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) penasaran bagaimana sebuah kelapa sawit bisa dicarikan katalisnya dan kemudian menjadi B20. Hal ini sudah sekira 3 tahun memerintahkan agar industry menggunakan B20 namun belum dapat terlaksanakan.

Menjawab pertanyaan Presiden, Profesor dari ITB, Subagjo menjelaskan, sekitar tahun 1982 saat pulang dari sekolah tentang katalis, dirinya berpikir minyak sawit juga sebetulnya hidro karbon. Maksudnya hidro karbon itu seperti minyak bumi, tapi diujungnya ada CO2.

 Baca juga: Pemerintah Jamin Harga Biosolar Tak Naik di 2020

Prof Bagjo menambahkan jika diputus langsung menjadi seperti minyak bumi. ”Karena saya belajar katalis, saya mencari katalis yang cocok untuk memutus itu. Kami lakukan dan memang kami sangat gembira waktu itu reaksinya waktu itu kadang-kadang baunya seperti solar tergantung kondisi, dalam temperatur tinggi hasilnya gas LPG kalau temperatur lebih rendah nanti diperoleh bensin, lebih rendah lagi kerosin itu bahan baku avtur, lebih rendah lagi bisa solar, lebih rendah lagi enggak jadi apa-apa,” cerita Prof Bagjo mengutip website setkab, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Untuk menghasilkan yang seperti ini, menurut Prof. Bagjo, dirinya mengaku mulai mencari pihak ketiga sebagai mitra industri untuk bisa memproduksi hal tersebut. Namun, ternyata tidak mudah.

 Baca juga: Percepat Penerapan B30, Erick Thohir: Impor Berkurang

“Tahun 2009 kemudian mulai mendengar ada proses untuk menghasilkan yang disebut oleh orang-orang dari luar negeri green diesel, tapi sebetulnya saya tidak ingin membiasakan untuk green diesel, tapi saya menyebut diesel biohidrokarbon artinya diesel yang seperti minyak bumi jadi hidro karbon tapi dari bahan nabati,” ujar Prof. Bagjo.

Bagjo yang mengaku sejak saat itu bekerja sama dengan Pertamina serta mendapat bantuan dua kali yakni Rp8 miliar dan Rp46 miliar. Saat ditanya oleh Presiden apakah perlu kerja sama dengan negara lain.

 Baca juga: Lanjutkan Program B30 hingga B100, Menjaga Bumi Jadi Alasan Jokowi

Prof. Bagjo menyampaikan bahwa kalau proses melibatkan katalis tidak perlu dengan negara lain cukup dengan ITB saja. Prof Bagjo juga menjelaskan bahwa bantuan dari Pertamina sebesar Rp46 miliar akan digunakan untuk membangun pabrik katalis.

“Jadi sejak dua tahun saya sudah menginginkan ada pabrik katalis. Dan resep-resep katalis yang kami pergunakan tidak akan lepas ke luar negeri. Saat ini resep-resep itu terpaksa dijahitkan ke pabrik milik multi nasional. Jadi diharapkan nanti ada perjanjian walaupun nanti sudah di kepala akan bisa pindah,” cerita Prof. Bagjo.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini