Dinilai Terlalu Murah, Pengusaha Angkutan Penyeberangan Minta Kenaikan Tarif

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 11 Februari 2020 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 11 320 2166792 dinilai-terlalu-murah-pengusaha-angkutan-penyeberangan-minta-kenaikan-tarif-kY7LWvRG2M.jpg Tarif Penyeberangan Orang Dinilai Murah. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) meminta pemerintah untuk menaikan tarif penyeberangan orang. Sebab, tarif yang berlaku saat ini dinilai masih terlalu rendah.

Ketua DPP Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan, saat ini tarif penyeberangan yang berlaku terlalu kecil. Sebagai salah satu contohnya, tarif untuk penyeberangan dengan rute Ketapang-Gilimanuk sekitar Rp6.500 per orang.

Baca Juga: Antisipasi Virus Korona, Kemenhub Keluarkan Surat Edaran Pengawasan di Pelabuhan

Angka tersebut dipotong berbagai biaya lainnya seperti asuransi hingga pajak untuk daerah. Artinya pendapatan bersih yang didapatkan oleh para pengusaha hanya sekitar Rp2.900 per penumpang.

"Rp6.500 yang dibayar. Yang kami terima Rp2.900 sisanya ke pelabuhan Jasaraharja, Pemerintah Kabupaten, macam-macam,"ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Baca Juga: Pelabuhan Tanjung Balai Karimun Bakal Dijadikan Pelabuhan Samudera

Menurut Khoiri, tarif tersebut terlalu rendah jika dibandingkan dengan standar internasional. Apalagi dengan fasilitas yang diberikan, tarif yang ditetapkan saat ini tidak seimbang dan jauh dari kata normal.

"Rp2.900 dengan standar internasional pakai toilet pakai mushola dan kafetaria dengan hari operasi sangat rendah," ucapnya.

Oleh karena itu, dirinya menginginkan agar ada penyesuaian tarif penyeberangan sesegera mungkin. Hanya saja dirinya enggan menyebutkan berapa persen kenaikan yang diusulkan.

Sebab kenaikan tarif tidak bisa dipresentase karena besarannya relatif. Menurutnya, penerapan tarif baru harus memenuhi standar kepantasan dan kalayakan sesuai dengan fasilitas yang disediakan.

"Sekarang kalau Rp2.900 mau jadi 10% kan jadi Rp3.000. Kan tarif harus pantas. Kalau naik pesawat saja tarif Rp150.000 apa tidak takut penumpangnya. Makanya beliau wanti-wanti tidak bicara persentase karena nomonal ini sudah sangat rendah. Kalau bicara persentase dianggap besar padahal kalau nominal itu rendah sekali," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini