Tangkal Kenaikan Harga, Presiden Jokowi Ingin Izin Impor Dipermudah

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 04 Maret 2020 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 04 320 2177991 tangkal-kenaikan-harga-presiden-jokowi-ingin-izin-impor-dipermudah-3ckhiJjsNT.jpg Presiden Jokowi (Setkab)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo meminta kepada jajaran Menterinya untuk memberikan kelonggaran pada impor bahan baku. Hal ini agar harga-harga di dalam negeri tidak mengalami kenaikan.

Menurut Jokowi, jika harga naik maka akan berimbas pada angka inflasi yang bisa kembali tinggi. Padahal, dalam lima tahun ini pemerintah berhasil menurunkan angka inflasi dari kisaran 8 hingga 9% menjadi stabil di kisaran 3,5%.

 Baca juga: Presiden Jokowi: Karena Virus Korona, Supply dan Demand Rusak

"Ini yang sudah kita jaga 5 tahun. Berpuluh-puluh tahun inflasi di atas 8-9%. Kita sudah bisa menjaga di posisi kurang lebih 3% selama 5 tahun ini. Jangan sampai terganggu gara-gara hal seperti ini," ujarnya dalam acara Rakornas Kementerian Perdagangan, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Salah satu contohnya adalah urusan dan masalah bawang putih. Memang kontribusi terhadap inflasi sangat kecil, hanya saja dalam beberapa hari ini harganya naik sangat tinggi.

"Contoh urusan bawang putih saja memberikan kontribusi inflasi tidak kecil. Gara-gara tadi prosedur. Kecepatan kita sangat dibutuhkan sekali," ucapnya.

 Baca juga: Cegah Virus Korona, Presiden Jokowi Minta Menteri Cari Terobosan Jangan Hanya Kerja Rutinitas

Oleh karena itu, Jokowi meminta agar diberikan kelonggaran untuk izin impor. Apalagi saat ini kondisi perekonomian global sedang tidak stabil imbas virus korona.

"Di sana terganggu suplai, artinya di sini kalau kita enggak memberikan kelonggaran juga terganggu. Kalau terganggu, artinya harga pasti naik. Kalau harga naik larinya nanti inflasi naik" jelas Jokowi.

Misalnya saja dengan memberikan relaksasi dari sisi tarif. Dengan tarif yang diberikan murah, maka akan banyak negara yang mensupply bahan baku industri ataupun konsumsi untuk Indonesia.

"Aturan yang selama ini ada tolong dalam raker dibicarakan. Harus ada relaksasi impor baik baik tarif maupun non tarif. Lihat betul. Itu yang kita butuhkan sekarang ini," jelasnya.

Apalagi saat ini lanjut Jokowi, China sebagai negara importir terbesar bagi Indonesia sedang terganggu ekonominya. Salah satu contoh yang paling terganggu adalah impor komponen untuk elektronik yang nilainya mencapai USD10 miliar.

"Suplai kita tahu, suplai ini karena pabrik berhenti produksi berhenti artinya suplai pasti terhambat. Ada bahan baku kita dari China ini sangat gede sekali. Contoh misalnya untuk komponen elektronik itu dari Wuhan dari tiongkok USD10 miliar, angka yang daya terim. Itu barang itu aja. Itu sudah 50% impor Indonesia ada di situ," kata Jokowi.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini