JAKARTA - Rupiah pekan ini akhirnya anjlok hingga menyentuh Rp16.000 per USD. Hal ini dikarenakan ketidakpastian virus Corona atau Covid-19.
Mengutip Bloomberg Dollar Index, perdagangan terakhir, Jumat 20 Maret 2020 pukul 17.11 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 47,5 poin atau 0,30% ke level Rp15.960 per USD. Rupiah bergerak di kisaran Rp15.950-Rp16.225 per USD.
Oleh sebab itu, Jakarta, Minggu (22/3/2020), berikut fakta-fakta pergerakan Rupiah yang anjlok hingga ambyar:
Baca juga: Aliran Modal Asing Kabur Rp57 Triliun dalam 4 Hari
1. Menembus Rp15.000 per USD
Pada perdagangan Selasa 17 Maret 2020, Rupiah hingga akhirnya ambruk menembus Rp15.000 per USD. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia (BI), Selasa (17/3/2020), rupiah sudah berada di posisi Ri15.083 per USD.
2. Hanya Dalam Hitungan Harian Rupiah Tembus Rp16.000 per USD
Nilai tukar Rupiah bergerak melemah signifikan. Pada pagi ini, kurs Rupiah sudah melampaui level Rp16.000 per USD.
Baca juga: Pukul Mundur Dolar AS, Rupiah Menguat ke Rp15.690/USD
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), Jumat 20 Maret 2020, Rupiah berada di posisi Rp16.273 per USD.
Nilai Rupiah ini mengalami pelemahan yang signifikan dibandingkan periode perdagangan kemarin, Kamis 19 Maret 2020 yang berada di posisi Rp15.712 per USD.
Menurut data Bloomberg, Rupiah sudah brada di posisi Rp16.037 per USD. Mata uang ini sudah melemah sebanyak 0,8%.
3. Permintaan Presiden Jokowi di Tengah Anjloknya Rupiah Rp16.000 per USD
Rupiah sudah menyentuh Rp16.000 per USD hari ini. Hal ini membuat pemerintah harus kembali memantau kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar Bank Indonesia (BI) untuk melakukan upaya mengembalikan stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Ada 3 permintaan yang dia inginkan untuk BI.
"Saya minta BI fokus terus jaga stabilitas rupiah, menjaga inflasi agar terkendali, dan mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening rupiah di dalam negeri," ujarnya.
4. Kejatuhan Rupiah ke Rp16.000 per USD seperti Krisis Moneter 1998?
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menegaskan, kondisi Rupiah dan perekonomian Indonesia saat ini jauh berbeda dengan krisis 1998. Dia menjelaskan, krisis 1998 berawal dari krisis mata uang Thailand Bath yang diperburuk dengan pengelolaan utang luar negeri swasta yang tidak prudent.
Saat itu, sebagian utang luar negeri swasta tidak dilindungi nilai, penggunaan utang jangka pendek untuk pembiayaan usaha jangka panjang, serta utang luar negeri yang dipergunakan untuk pembiayaan usaha yang berorientasi domestik. Krisis utang luar negeri swasta tersebut yang mendorong tekanan pada rupiah dimana tingkat depresiasi rupiah mencapai sekitar 600% dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, yaitu dari Rp2.350 per USD menjadi Rp16.000 per USD.
“Meskipun sebagian besar nilai tukar negara berkembang termasuk rupiah cenderung melemah terhadap dollar AS, namun kondisi ini masih jauh dari krisis 1998. Kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kondisi fundamental pada tahun 1998,” kata Josua kepada Okezone.
5. Cara BI Perkuat Rupiah
Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar.
Selain itu, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF (Domestic Non Deliverable Forward), pasar spot, dan pembelian SBN (Surat Berharga Negara) dari pasar sekunder. Demikian seperti dikutip keterangan resmi BI.
Nilai tukar Rupiah sempat ambyar ke Rp16.273 per USD pada perdagangan Jumat pagi, namun akhirnya menguat ke Rp15.960 per USD.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar Bank Indonesia (BI) untuk melakukan upaya mengembalikan stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Ada 3 permintaan yang dia inginkan untuk BI.
"Saya minta BI fokus terus jaga stabilitas rupiah, menjaga inflasi agar terkendali, dan mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening Rupiah di dalam negeri," ujarnya.
Dirinya meminta agar ketersediaan likuiditas dalam negeri terjaga. Kemudian memantau setiap saat terhadap sistem keuangan.
6. RupiahAmbyar Jadi Trending Topic
Dari pantauan Okezone, Jakarta, Kamis (19/3/2020) pada pukul 14.00 WIB, tagar Rupiahambyar menjadi trending topic di Twitter. Selain itu, Rp16.000 juga menjadi trending topic.
Terlihat ada sekira 8.991 cuitan yang menggunakan #Rupiahambyar. Begitu juga dengan Rp16.000 sudah mencapai 3.400 cuitan di waktu yang sama.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.