IMF Siapkan Dana USD1,5 Triliun untuk Tangkal Corona, Akankah Indonesia Berutang?

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 25 Maret 2020 10:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 25 20 2188678 imf-siapkan-dana-usd1-5-triliun-untu-tangkal-corona-akankah-indonesia-berutang-Ltt5GCEmKk.JPG IMF (Reuters)

JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) menyiapkan dana sekitar USD1,5 triliun untuk penanganan virus Corona atau Covid-19. Anggaran tersebut nantinya akan diberikan kepada negara anggota IMF untuk mencegah krisis ekonomi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dana tersebut akan disalurkan kepada negara anggota IMF yang mana dana asingnya keluar banyak berupa fasilitas swapline. Apalagi di tengah situasi tidak pasti ini, banyak investor asing yang memilih untuk menjual investasinya.

Baca juga: IMF Ramal Ekonomi Negara Kecil Ini Bisa Tumbuh 86%

Asal tahu saja, fasilitas swap line merupakan salah satu fasilitas yang tersedia di IMF untuk mencegah krisis. Swap line bersifat precautionary line, sehingga dapat diaktivasi atau ditarik sewaktu-waktu saat negara mengalami potensi krisis neraca pembayaran dan atau potensi krisis likuiditas jangka pendek.

"Saat ini IMF akan menggunakan resource yang dimilikinya yakni USD1 triliun plus tambahan USD500 miliar untuk dijadikan fasilitas swap line kepada seluruh anggota IMF," ujarnya dalam acara teleconfrence, Selasa (24/3/2020) malam.

Baca juga: Bos IMF yang Baru Gregetan Sama Perang Dagang

Namun apakah Indonesia membutuhkan pinjaman tersebut, Sri Mulyani enggan menjelaskannya. Menurutnya, pemberian dana oleh IMF ini harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu oleh pemangku kepentingan di negara tersebut.

"Ini masih perlu dapat persetujuan dari seluruh shareholder. Dengan tambahan USD500 miliar, diharapkan IMF bisa bantu secara otomatis yang saat ini hadapi capital outflow dan situasi likuiditas dari dolar AS atau hard currency forex yang sangat ketat," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut situasi ekonomi global ini berada dalam krisis kemanusiaan dan kesehatan imbas pandemik corona. Namun jika tak ditangani dengan cepat, maka masalah ini bisa menimbulkan krisis ekonomi seperti halnya tahun 2008.

"Jadi semua negara mencoba untuk constrain, menjaga, agar krisis di bidang kesehatan dan kemanusiaan ini tidak kemudian menimbulkan spillover ke krisis ekonomi. Ekonomi kontraksi, tapi tidak berarti krisis," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini