Ringankan Beban Defisit APBN, RI Mau Tambah Utang Baru USD7 Miliar

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 08 April 2020 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 08 20 2196156 ringankan-beban-defisit-apbn-ri-mau-tambah-utang-baru-usd7-miliar-jvQaRJosSs.jpg Rupiah (Okezone)

JAKARTA - Pemerintah berencana untuk kembali menarik utang dari beberapa lembaga internasional. Hal ini dilakukan demi menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tak melebar terlalu jauh.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, ada beberapa langkah untuk menutupi defisit APBN yang melebera karena pandemi corona. Dari sisi Bank Indonesia akan misalnya saja dengan menarik kembali utang dari beberapa lembaga internasional.

 Baca juga: Posisi Utang Pemerintah Naik Terus, Ini Faktanya!

Pemerintah sendiri disebut akan menyiapkan opsi untuk kembali menarik utang sebesar USD7 miliar dari beberapa lembaga internasional untuk menutupi defisit APBN. Ada beberapa lembaga negara yang akan memberikan pembiayaan untuk menambah pundi-pundi negara seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), hingga The Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Namun untuk saat ini, pemerintah akan fokus memaksimalkan sumber dana dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) maupun dana abadi. Sementara dari Bank Indonesia, natinya akan masuk dan membeli obligasi pemerintah melalui pasar perdana dalam kondisi yang abnormal.

 Baca juga: Rupiah Hampir Rp16.000/USD, Utang BUMN Membengkak?

“Kemarin investor teleconfrence ada juga dari Asian Internasional Infra Bank, ADB, Bank Dunia, Jerman, AIIB itu direncanakan bisa kurang lebih USD7 miliar. Itu yang sumber-sumber memang dimaksimalkan oleh pemerintah,” ujar Perry dalam rapat virtual dengan Komisi XI DPR, Rabu (8/4/2020).

Intervensi bank Indonesia untuk masuk ke pasar ini sejalan dengan langkah pemerintah yang berencana untuk menerbitkan surat utag berdenominasi dolar AS atau Global Bond sebesar USD 4,3 miliar. Penerbitan surat utang ini terdiri dari 3 seri.

Dari tiga seri tersebut, salah satu serinya bahkan memiliki tenor hingga 50 tahun. Ini menjadi tenor terlama yang pernah diterbitkan Indonesia maupun negara-negara di Asia.

Dana dari hasil Global Bond itu nantinya juga akan digunakan untuk menambal defisit anggaran APBN 2020. Adapun defisit APBN sendiri diproyeksi melebar menjadi Rp853 triliun atau 5,07% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Agar kalau kapasitas pasar enggak cukup, misalnya suku bunga melonjak tinggi, dalam konteks ini lah kemudian BI diperbolehkan dalam pengaturan Perppu membeli dari pasar perdana,” jelasnya.

Dengan masuknya BI ke pasar perdana, maka Perry memperkirakan jika laju inflasi akan tetap terkendali. Meskipun dirinya mengakui jika target inflasi ke depannya masih akan dibahas lebih lanjut dengan pemerintah.

“Kami akan perhitungkan dampak ke inflasi. Kami perkirakan kemudian terukur, makanya kesepakatan dengan Menkeu, akan maksimalkan dulu sumber-sumber dari dana yang ada, dari berbagai lembaga multinasional, global bond, jadi penerbitan SUN SBSN itu bisa mencukupi dari pasar,” kata Perry.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini