Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Covid-19 Ancam Penghasilan, Hasil Survei: 25% Warga Berutang untuk Kebutuhan Pokok

Taufik Fajar , Jurnalis-Jum'at, 17 April 2020 |14:28 WIB
Covid-19 Ancam Penghasilan, Hasil Survei: 25% Warga Berutang untuk Kebutuhan Pokok
Rupiah (Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Selama wabah virus Corona atau Covid-19, warga Indonesia mayoritas terimbas perekonomiannya. Di mana, sekira 77% masyarakat Indonesia menyatakan wabah tersebut mengancam pemasukan dan penghasilannya.

Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) melakukan survei pada 9-12 April 2020 terhadap 1.200 responden yang diwawancarai melalui telepon yang dipilih secara acak. Di mana, dengan margin of error 2,9%.

 Baca juga: Sri Mulyani Ungkap Imbas Covid-19, Pendapatan Sektor Penerbangan Hilang Rp270 Miliar

Mengutip survei nasional Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Jakarta, Jumat (17/4/2020), survei itu menyatakan 25% warga atau sekira 50 juta warga dewasa menyatakan sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan pokok tanpa pinjaman dan 15% warga menyatakan tabungan yang dimiliki hanya cukup untuk beberapa minggu. Sementara itu, 15% warga menyatakan tabungan yang dimiliki hanya cukup untuk satu minggu.

Survei ini juga menunjukkan 67% rakyat Indonesia menyatakan kondisi ekonominya semakin memburuk sejak pandemi Covid-19. Yang menyatakan tidak ada perubahan 24% dan yang menyatakan lebih baik hanya 5%.

 Baca juga: Penyebaran Covid-19 Mayoritas di Jawa, Begini Dampaknya pada Ekonomi RI

Sementara itu, 92% rakyat menganggap Covid-19 mengancam nyawa manusia. Tapi ada perbedaan kekhawatiran antar daerah.

Terdapat dua provinsi yang persentase warganya yang menganggap Covid-19 mengancam nyawa sangat tinggi, yaitu Sulawesi Selatan sebesar 99% dan DKI Jakarta sebesar 98%. Sementara di Jawa Barat hanya 77% warga yang menganggap Covid-19 mengancam nyawa.

Mayoritas 52% warga menganggap pemerintah pusat cepat menangani wabah Corona, sementara 41% menganggap lambat. Terdapat perbedaan antar provinsi, mayoritas warga Jawa Tengah 61% dan Jawa Timur 61% menganggap langkah pemerintah pusat cepat sedangkan di Jawa Barat hanya 41% warga menganggap pemerintah pusat bekerja cepat.

Demikian pula dengan soal kecepatan pemerintah provinsi. Sementara mayoritas warga Jawa tengah 73%, Jawa Timur 68% dan DKI Jakarta 62% menilai pemerintah provinsi bergerak cepat; di Jawa Barat hanya 39% warga menganggap pemerintah provinsi bergerak cepat.

Sementara itu, mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB), mayoritas rakyat sekira 87,6% setuju dengan aturan tersebut. Namun demikian, hanya 39% rakyat yang setuju bahwa seharusnya dikenakan denda atau penjara bagi mereka yang melanggar PSBB, sementara 31,2% menyatakan tidak setuju.

Yang paling banyak mendapatkan dukungan adalah pengurangan penumpang mobil pribadi mencapai 86%, dan yang mendapat persetujuan warga paling rendah adalah aturan bahwa sepeda motor tidak boleh membonceng 63% dan ojeg atau ojeg online tidak boleh membawa penumpang orang (66%). Artinya, ada 34 sampai 37% yang keberatan dengan aturan bahwa motor tidak boleh membonceng.

Hasil survei lainnya, 76% warga setuju dengan kewajiban bekerja dari rumah saja. Namun di Jawa Barat, hanya 54% warga yang mendukung kebijakan tersebut.

(Fakhri Rezy)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement