Fakta Harga BBM Belum Juga Turun saat Kejatuhan Minyak Mentah

Giri Hartomo, Jurnalis · Sabtu 25 April 2020 10:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 25 320 2204589 fakta-harga-bbm-belum-juga-turun-saat-kejatuhan-minyak-mentah-0c7qMcYoEI.jpg Pertamina (Okezone)

JAKARTA - Harga minyak mentah dunia sempat mengalami kejatuhan yang cukup dalam. Bahkan, harganya sampai level minus.

Pada perdagangan Senin 20 April 2020, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei merosot USD55,9 atau lebih dari 305%, menjadi minus USD37,63 per barel di New York Mercantile Exchange.

 Baca juga: Kapan Harga BBM Turun? Pertamina Tunggu Arahan Jokowi

Sedangkan, Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun USD2,51 menjadi ditutup pada USD25,57 per barel di London ICE Futures Exchange.

Untungnya, harga minyak berangsur membaik diakibatkannya ada kesepakatan OPEC dengan Rusia untuk membatasi produksinya. Namun, hingga saat ini PT Pertamina belum juga menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) imbas dari penurunan tersebut.

Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (25/4/2020), berikut fakta-fakta Harga BBM tak kunjung turun di tengah kejatuhan minyak mentah dunia:

1. Harga Pertamax Cs Turun Tak Hanya Tergantung Harga Minyak Dunia

Pertamina mengatakan penetapan harga BBM, yang harus ditentukan oleh pemerintah, ditentukan oleh faktor lain termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar.

 Baca juga: Alasan Pertamina Belum Juga Turunkan Harga BBM saat Anjloknya Minyak Dunia

Hal tersebut adalah karena minyak dibeli dengan dolar dan dijual ke masyarakat dalam harga rupiah.

"Faktor kurs dihitung karena impor kita mencapai 40 persen dari konsumsi BBM. Konsumsi BBM di Indonesia pun sebagian besar adalah BBM Subsidi dan Penugasan, yang harganya diatur oleh pemerintah," ujar Juru bicara Pertamina, Fajriyah Usman.

2. Penurunan Harga BBM Bukan Suatu yang Mudah

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, untuk menurunkan harga BBM bukan tugas yang mudah karena Pertamina tidak bisa asal naik atau turunkan harga BBM seenaknya.

"Jadi, kalau satu hal kalau kita sebagai trading company, memang mudah sekali ketika harga BBM yang kita beli murah, maka kita langsung bisa kita jual," ucapnya.

Di sisi lain, Pertamina juga harus memperhatikan biaya operasional dari perseroan karena harus tetap melakukan pengeboran di tengah anjloknya harga minyak dunia.

"Terus terang saja, biaya produksinya itu lebih tinggi dibandingkan harga crude hari ini. Kalau dalam kondisi ini, maka sebetulnya secara HPP, kita impor crude harganya 25% karena kita prioritaskan crude dalam negeri," ujarnya.

3. Penurunan Harga BBM Sudah Masuk Opsi PT Pertamina

 

Menurut Jubir PT Pertamina Fajriyah, jika perkembangan harga minyak dan BBM di pasaran terus anjlok, pihaknya berencana melakukan penyesuaian pada harga BBM non subsidi. Sementara untuk harga BBM subsidi dan penugasan adalah kewenangan Pemerintah untuk penetapan harga jualnya.

“Perhitungan harga jual BBM non subsidi dan non penugasan ditetapkan Pertamina periodik bulanan dengan mempertimbangkan salah satunya adalah perkembangan harga minyak dan harga BBM di pasaran, jika sampai akhir bulan ini harga minyak dunia tetap di posisi rendah, maka dimungkinkan bagi Pertamina untuk melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi,” katanya.

4. Penurunan Harga BBM Tetap Menunggu Arahan Jokowi

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu arahan langsung dari pemerintah. Karena penyesuaian harga BBM non subsidi akan menyesuaikan dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

"Pada prinsipnya Pertamina selaku operator akan menyesuaikan dengan peraturan pemerintah. sampai saat ini harga BBM mengacu pada ketentuan dari Kementerian ESDM, dan Pertamina selalu comply dengan hal tersebut. Apabila nanti ada perubahan peraturan atau kebijakan, Pertamina akan menyesuaikan," ujarnya.

 

5. Penurunan Harga BBM Tak Berarti bagi Masyarakat Saat Ini

Di tengah harga minyak dunia anjlok, permintaan pun mengering secara global. Hal ini diakibatkannya karantina atau lockdown di berbagai negara untuk antisipasi virus Corona yang memperlambat pergerakan kegiatan ekonomi.

"Sampai dengan Maret kemarin, konsumsi minyak dunia itu sudah turun paling tidak sepertiganya karena minimnya aktivitas ekonomi, kegiatan transportasi," ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa.

Dirinya mengatakan, permintaan minyak sudah turun sangat cepat sekira 30-40%. Penurunan permintaan itu tidak diikuti dengan penurunan produksi minyak.

Namun, pakar energi itu menjelaskan bahwa harga BBM di Indonesia itu tidak sepenuhnya ditentukan oleh pasar, melainkan diatur oleh pemerintah. Kebijakan ini yang menetapkan BBM tersedia dengan satu harga di seluruh Indonesia, untuk menjaga daya beli masyarakat.

Ia berpendapat bahwa penurunan harga BBM saat ini tidak banyak memberikan dampak bagi konsumen, mengingat di Indonesia sendiri konsumsi BBM sudah turun 40% di bulan Maret.

Angka ini diperkirakan akan terus meningkat di bulan April dan Mei dengan bertambahnya provinsi yang menerapkan partial lockdown, atau yang dikenal sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurutnya, penurunan konsumsi BBM yang drastis dikarenakan mobilitas yang melambat.Hal ini membuat penurunan harga tidak banyak memberikan manfaat.

"Tapi juga kalau harga turun, ya tentunya mereka yang menggunakan kendaraan bermotor bisa membayar harga bahan bakar dengan lebih murah. Tapi secara akumulatif nggak membawa banyak dampak pada pengeluaran rumah tangga," tutur Fabby.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini