Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Mulai Bangkit, Utang Pemerintah AS Jadi Sentimen Positif

Giri Hartomo , Jurnalis-Senin, 11 Mei 2020 |07:12 WIB
Rupiah Mulai Bangkit, Utang Pemerintah AS Jadi Sentimen Positif
Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama pekan kemarin cenderung menguat. Mengutip Bloomberg Dollar Index, Rupiah bergerak di kisaran Rp15.060-Rp15.077 per USD.

Sementara itu, Yahoo Finance mencatat Rupiah bergerak di kisaran Rp15.099-Rp15.099 per USD. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, faktor teknikal seperti news bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah. Dalam jangka pendek, Rupiah akan naik turun dipengaruhi oleh faktor teknikal seperti faktor news.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Rupiah April Lebih Menguat Dibanding Maret 2020

Berikut adalah fakta mengenai penguatan Rupiah yang dirangkum Okezone:

1.Lebih kuat dari Maret

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani menyebut mata uang Rupiah sudah terdepresiasi sebesar 8,9% terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga hari ini. Akan tetapi, mata uang Garuda sudah lebih baik dibanding kondisi pada Maret lalu.

"Rupiah sudah lebih menguat dibanding Maret lalu. Meskipun secara year to date (ytd), masih terdepresiasi sebesar 8,9%," ujar dia pada telekonferensi di Jakarta, Jumat (8/5/2020).

Kemudian, lanjut dia, pada April, kondisi mata uang Rupiah sudah menemukan perspektif baru di tengah pandemi virus vorona. Namun, pihaknya, masih mewaspadai sejumlah hal yang dapat mengguncang Rupiah.

Baca Juga: Rupiah Berhasil Menguat ke Rp14.995/USD

2. Sentimen dari berita positif

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan faktor positif antara lain, sejumlah wilayah di AS mulai membuka kegiatan bisnisnya. Kemudian statment The Federal Reserve yang mengatakan bahwa ekonomi AS akan membaik di semester II meskipun di semester I mengalami resesi.

“Pernyataan itu juga buat faktor positif, juga harga minyak yang meningkat,” ucap Perry.

Kendati begitu, masih ada beberapa faktor negatif yang mempengaruhi pelemahan Rupiah. Salah satunya adalah ketegangan AS dan China.

3. Rupiah Stabil Cenderung Menguat

Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah cukup stabil cenderung menguat. Pergerakan rupiah masih dipengaruhi beberapa faktor fundamental.

“Rupiah bergerak stabil cenderung menguat dipengaruhi faktor fundamental seperti inflasi, defisit transaksi berjalan dan perbedaan suku bunga di dalam dan luar negeri,” katanya.

4. Utang AS Jadi Penguat Rupiah

Perry Warjiyo mengatakan, langkah pemerintah AS utang USD3 triliun atau setara Rp45 kuadriliun (Rp45.000 triliun) akan berdampak ke perekonomian RI. Setidaknya ada dua dampak terhadap Indonesia.

“Kalau pemerintah Amerika suplai us treasury akan meningkat dan likuiditas di sana meningkat. Ini akan berdampak kenaikan suku bunga us treasurydan us bonds,” kata Perry dalam telekonferensi ditulis Minggu (10/5/2020).

Hal ini, kata Perry membuat perbedaan suku bunga tinggi dan menarik investor membeli SBN. Dengan begitu, kekuatan dolar akan melemah.

“Berkaitan nilai tukar, kekuatan dolar melemah. Di sisi lain, inflow SBN akan tetap tinggi dan mendukung penguatan rupiah ke depan, jadi satu kekuatan dolar berkurang dan inflow Indonesia tinggi,” tukasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement