Share

OJK Siapkan Bank Sistemik Penyangga Likuiditas Hadapi Corona

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 11 Mei 2020 19:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 11 320 2212502 ojk-siapkan-bank-sistemik-penyangga-likuiditas-hadapi-corona-58FCJPt8SG.jpg Perbankan (Reuters)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serius dalam menggarap bank sistemik untuk menjadi penyangga likuiditas di Industri Keuangan tanah air. Langkah ini diambil untuk mengahadapi kesiapan perbankan dalam menghadapi pandemi virus corona (covid-19).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, nantinya pemerintah nantinya akan mengarahkan bank yang membutuhkan likuiditas agar menempatkan deposito kepada bank jangkar yang telah kuat dari sisi permodalannya. Adapun bank ini bisa diiisi oleh bank himbara maupun bank swasta.

 Baca juga: Ada Virus Corona, Masyarakat RI Makin Gemar Menabung

"Ini intinnya bank (sistemik) yang menjadi pensupplay utama di pasar Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Bank jangkar yang akan menjadi channeling dana yang telah disiapkan oleh Kementerian dari penjualan SBN ke BI sehingga tanggung jawab tetap ada di bank yang akan menselesaikan kredit yang di restrukturisasi," ujarnya dalam teleconfrence, Senin (11/5/2020).

Menurut Wimboh, nantinya kebijakan tersebut akan sejalan dengan kebijakan restrukturisasi kredit untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Adapun aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) nomor 11 tahun 2020.

 Baca juga: BI Gelontorkan Rp503,8 Triliun Kawal Likuiditas Perbankan

Menurut Wimboh, kebijakan tersebut akan bisa menekan angka kredit macet (Non Performing Loan/NPL). Mengingat situasi covid-19 ini akan menimbulkan peningaktan angka NPL jika tidak segera diantisipasi.

"Sehingga relaksasi sementeara dengan restrukturisasi dalam kategori lancar itu justified. Jadi NPL lebih banyak berasal dari debitur yang seblumnya ada covid sudah NPL," kata Wimboh.

Asal tahu saja, OJK mencatat stabilitas sektor jasa keuangan yang masih terjaga diidukung dengan tingkat permodalan yang tinggi. Pada Maret 2020, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) mengalami penurunan namun masih cukup tinggi yaitu sebesar 21,72% dimana pada saat Desember 2019 sempat mencapai 23,31%.

Sedangkan untuk risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross sedikit meningkat namun masih terjaga di 2,77% dimana pada Desember 2019 mencapai 2,53%. Beberapa sektor pendorong tingginya NPL adalah sektor transportasi, pengolahan, perdagangan dan rumah tangga.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini