JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengaku kesulitan untuk mendapatkan pasokan gula untuk dijual. Sementara, pengusaha ritel tetap dituntut untuk pemerintah tidak menjual melebih harga Rp12.500 per kilogram (kg).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, para pengusaha ritel mendapatkan pasokan gula dari para produsen yang tergabung dalam Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI). Sebab, Kementerian Perdagangan beberapa waktu lalu menemukan stok gula rafinasi masih tersedia sebesar 160.000 ton.
Baca Juga: Harga Mahal, Presiden Jokowi: Gula Pasir Sampai Saat Ini Masih Saya Kejar
"Akhirnya ada satu jalan bahwa ada kelebihan proses gula rafinasi itu yang buat industri makanan dan minuman, itu ada alokasi kelebihan 160.000 ton," kata Roy dalam webinar pangan BPKN, Kamis (14/5/2020).
Namun ketika pihaknya melanjutkan proses untuk memperoleh 160.000 ton tersebut, justru stok yang tersedia hanya 93.000 ton. Artinya hanya dalam tempo 2 hari ada sekitar 70.000 ton gula rafinasi rapi atau hilang.
Baca Juga: Harga Bawang Merah dan Gula Jadi Sorotan Presiden Jokowi
"Nah prosesnya ternyata, dari 160.000 ton itu ternyata hanya tinggal 93.000 ton. Dalam waktu 2 hari, hilang gulanya hampir sekitar 70.000 tidak tahu kemana," kata Roy.
Karena kebutuhan yang tinggi, maka pihaknya memutuskan untuk mengambil seluruh stok gula yang tersisa. Namun, kesepakatan yang disetujui justru hanyalah sebabnya 30.000 ton saja.
"Dengan 93.000 ton akhirnya kami coba untuk melakukan kerjasama dan kenyataannya itu tidak bisa disuplai secara total, akhirnya kita hanya minta 30.000 ton untuk kebutuhan 1 bulan ini," ucapnya.