Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Emiten Pedagang Emas Mau Buka Usaha Gadai di Tengah Corona

Aditya Pratama , Jurnalis-Rabu, 12 Agustus 2020 |16:36 WIB
Emiten Pedagang Emas Mau Buka Usaha Gadai di Tengah Corona
Harga emas (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Sandra Sunanto menyampaikan rencana strategis perseroan di tahun 2020. Adapun, rencana tersebut antara lain memperkuat integrasi vertikal dan penetrasi pasar, pengembangan produk dan peningkatan margin.

Sandra menjelaskan, rencana strategis yang pertama yaitu untuk memperkuat integrasi vertikal, khususnya memperkuat integrasi vertikal melalui penetrasi pasar yang cukup kuat dengan penambahan jumlah toko sendiri khususnya. Pihaknya juga akan memperkuat support melalui jaringan emas duit dan juga memperluas jaringan gadai emas yang mana di tahun ini pihaknya sedang menunggu perizinan gadai dari Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: Hartadinata Abadi Setor Dividen Rp32,2 Miliar

"Insya Allah kalau izinnya sudah keluar kita di tahun 2020 sudah akan punya gadai dengan proyeksi kami Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, NTT sekitar 65 unit gadai emas kami di empat provinsi," ujar Sandra dalam Public Expose HRTA, Rabu (12/8/2020).

Untuk ACC (toko perhiasan emas Aurum Collection Centre), pihaknya masih akan melakukan penambahan jumlah toko. Ada beberapa strategi yang dilakukan pihaknya untuk menambah jumlah toko.

Baca Juga: Penjualan Hartadinata Naik 10,59% Jadi Rp2,75 Triliun

"Kita juga tetap meningkatkan penjualan berbasis e-commerce, kita sekarang sudah mulai menjual perhiasan lewat jaringan e-commerce Shopee, kita punya kerja sama eksklusif, kita tidak hanya menjual logam mulia tapi kita juga mengawali dengan penjualan perhiasan sendiri. Kita juga punya jaringan online sendiri lewat Hartadinata Online untuk end user," kata dia.

Untuk strategi kedua, Sandra mengatakan bahwa pihaknya terus mengembangkan produk secara continue dan konsisten, seperti di tahun 2019 HRTA telah mengeluarkan koleksi metamorfosa dan di tahun 2020 pada awal bulan Maret perseroan telah melaunching lagi salah satu koleksinya yaitu "Perjalan Cinta".

"Tapi perjalanan cintanya dinodai oleh Covid-19, jadi ga tau hasil akhirnya apa, tapi kami berharap perjalanan cintanya masih cukup menyenangkan, apapun yang terjadi kita selalu berusaha, berinovasi, kreatif untuk bisa mencapai tujuan kami," ucap Sandra.

Strategi ketiga, dia menyebut hal yang dilakukan ini masih sama dari tahun ke tahun, dimana perseroan selalu berusaha melakukan peningkatan margin. Salah satu caranya dengan meningkatkan jumlah toko milik sendiri.

"Kita juga coba memperpendek chanel distribusi kita, kita gunakan bantuan teknologi dan juga kita melakukan inovasi produk supaya margin ini semakin meningkat," tuturnya.

Emas

Untuk diketahui, kinerja keuangan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan perdagangan perhiasan emas ini mencatatkan hal yang positif. Direktur Keuangan Hartadinata Abadi, Ong Deny mengatakan, pendapatan perseroan di tahun 2019 mengalami pertumbuhan sebesar 17,8% atau meningkat Rp490 miliar dari sebelumnya Rp2,74 triliun menjadi Rp3,24 triliun. Seiring pertumbuhan pendapatan dari perseroan, laba usaha perseroan juga meningkat cukup tinggi sampai dengan 24% atau meningkat sebesar Rp50 miliar dari Rp208 miliar menjadi Rp258 miliar.

Untuk laba sebelum pajak pertumbuhannya sedikit lebih rendah dari laba usaha karena beban bunga yang harus diemban perseroan di tahun 2019 sehingga laba sebelum pajak peningkatannya 20,5% atau meningkat Rp34 miliar dari Rp166 miliar ke Rp200 miliar.

"Di tahun 2019, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp150 miliar atau meningkat 20,9% dari tahun sebelumnya," ujar Deny.

Dia menambahkan, dari sisi posisi keuangan, aset lancar perseroan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 53,4% dari Rp1,4 triliun menjadi 2,1 triliun. Sedangkan, dari aset tidak lancar ada peningkatan karena fix asset tidak terlalu besar untuk di bisnis perseroan, sehingga peningkatan hanya 8,4% atau Rp9 miliar dari Rp107 miliar menjadi Rp116 miliar.

"Secara total, aset kami meningkat sebesar 50,3% dari tahun lalu, pertumbuhannya sebesar Rp774 miliar dari Rp1,5 triliun menjadi Rp2,3 triliun," kata dia.

Dari liabilitas dan ekuitas, dia menjelaskan bahwa liabilitas jangka pendek HRTA turun sebesar -43,8% atau turun Rp170 miliar dari Rp388 miliar menjadi Rp218 miliar. Hal ini karena beban utang pajak yang lebih rendah di tahun 2019 dan juga adanya pembayaran utang jangka pendek kepada Bank BNI. Selain itu, liabilitas jangka panjang perseroan meningkat cukup tinggi sebesar Rp826 miliar dari Rp56 miliar menjadi Rp882 miliar.

"Hal ini karena di tahun 2019 perseroan menerbitkan MTN sebesar Rp250 miliar di bulan April 2019 dan obligasi tahap satu di Desember 2019 sebesar Rp600 miliar. Dari sisi ekuitas, karena laba bersih perseroan mengalami peningkatan sebesar 10,8% atau Rp118 miliar dari Rp1,09 triliun menjadi Rp1,21 triliun," ucapnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement