Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kilas Balik Krisis 1998, Rupiah Anjlok hingga Rp17.000/USD

Safira Fitri , Jurnalis-Sabtu, 22 Agustus 2020 |16:56 WIB
Kilas Balik Krisis 1998, Rupiah Anjlok hingga Rp17.000/USD
Krisis Ekonomi (Ilustrasi: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA – Ekonomi Indonesia kini berada di dalam ancaman resesi. Pasalnya pada kuartal II-2020 ini, ekonomi Indonesia -5,3% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Jika nantinya pada kuartal III-2020, ekonomi kembali mengalami minus, Indonesia akan menyusul negara seperti Singapura hingga Jerman. Krisis ekonomi yang diakibatkan pandemi covid-19 ini bukan hanya dialami Indonesia melainkan banyak negara di dunia.

Baca Juga: Dampak Mengerikan jika Indonesia Resesi, Siap-Siap Kena PHK!

Lalu apakah resesi ekonomi tahun ini sama dengan kondisi ekonomi pada 1998?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bercerita perihal kilas balik krisis ekonomi yang pernah dialami Indonesia di tahun 1998. Dirinya menceritakan bagaimana dahsyatnya kondisi ekonomi kala itu.

“Throwback 22 Tahun yang Lalu, 14 Agustus 1998-22 tahun lalu kamu ada dimana? Tahun 1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dahsyat,” tulis Sri Mulyani lewat unggahan di akun Instagramnya @smwindrawati, dikutip Sabtu (22/8/2020).

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, bahwa di saat itu ekonomi Indonesia merosot tajam hingga minus 13,7%. Dampaknya, mata uang Rupiah jadi kolaps dari Rp2.350 menjadi Rp16.000 per USD, sehingga banyak perusahaan dan bank besar kecil mengalami kebangkrutan.

 

Sementara itu, Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)Tanri Abeng mengatakan, awal mula krisis ekonomi pada 1998 di Indonesia sama sekali tidak diprediksi oleh pemerintah. Menurutnya menteri keuangan Indonesia saat itu menjamin kondisi fundamental ekonomi makro dalam posisi baik. Tapi tanda krisis kemudian dengan sangat cepat melanda Indonesia.

"Hal itu ditandai dengan menurunnya nilai mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat dari posisi Rp2.400 per USD hingga mencapai puncak tertinggi sebesar Rp17.000 per USD pada pertengahan 1998. Dan krisis ekonomi dengan diawali depresiasi mata uang Thailand pada 1997," ujar dia pada telekonferensi, 18 Mei 2020.

Dia menjelaskan perubahan ekonomi yang cukup cepat itu, membuat Indonesia harus mempertahankan agar roda perekonomian bisa tetap berjalan. Seperti, dengan meminjam utang kepada Dana Monter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).

"Presiden Soeharto pada waktu itu, mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi krisis. Pada 10 Januari 1998 itu IMF menandatangani kesepakatan dengan Pak Harto. Waktu itu ada stanby loan USD43 juta kalau tidak salah persisnya," ungkap dia.

Kemudian, lanjut dia, tidak hanya meminjam utang kepada IMF, Indonesia juga berbenah memperkokoh ekonomi dengan membentuk Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan yang diisi oleh 5 menteri dan penasihat Presiden.

"Jadi tugas dewan itu salah satunya mencari solusi agar BUMN dapat berperan menekan potensi pembengkakan utang Indonesia," jelas dia.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement