Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BTPN Syariah Jadi Bank Buku III, Fokus Kembangkan Bisnis Ultra Mikro

Shifa Putri , Jurnalis-Selasa, 25 Agustus 2020 |19:25 WIB
BTPN Syariah Jadi Bank Buku III, Fokus Kembangkan Bisnis Ultra Mikro
BTPN Syariah Jadi Bank Buku III, Fokus Kembangkan Bisnis Ultra Mikro. (Foto: IDX Channel)
A
A
A

JAKARTA - Sebagai bank yang fokus di ultra mikro, BTPN Syariah tentunya terdampak akibat pandemi Covid-19 ini yang secara tidak langsung memengaruhi kinerja bank. Namun, perseroan tetap optimis dan adaptif dengan berbagai upaya untuk memberi nilai positif juga mengembangkan bisnis perseroan setelah resmi naik jadi bank BUKU III dengan modal inti minimal Rp5-Rp30 triliun.

Sebagai bank yang fokus melayani nasabah prasejahtera produktif langsung ketempat komunitas berada, dukungan bank di masa pandemi ini menjadi sangat penting mengingat mereka paling merasakan dampaknya. Membangun komunikasi yang intensif untuk memahami kebutuhan mereka menjadi aktifitas utama yang cukup menantang.

BACA JUGA : Jadi Bank BUKU III, Ini Strategi BTPN Syariah Kembangkan Bisnis Ultra Mikro

“Sebagai bank BUKU III, kepercayaan publik kepada BPTN Syariah terus meningkat karena modal bank yang semakin kuat dan bank memiliki kesempatan yang lebih luas untuk terus mengembangkan jaringan serta produk dan layanannya,” kata Direktur Kepatuhan dan Sekretaris Perusahaan BTPN Syariah Arief Ismail dalam Public Expose LIVE 2020, Selasa (25/8/2020).

Bank pun tetap berkomitmen untuk memberi dampak bagi seluruh pemegang saham dengan menguatkan segala upaya untuk tetap menjadi bank yang sehat dengan rasio-rasio likuiditas yang terjaga.

“Alhamdulillah 7 Juli lalu, Bank mendapatkan surat penegasan dari OJK untuk penetapan sebagai Bank Buku III. Hal ini merupakan pencapaian bagi Bank secara keseluruhan, mengingat ini adalah buah dari perjalanan selama 6 tahun menjadi Bank Umum Syariah. Sebagai Bank Buku III, tentunya kepercayaan publik kepada BTPN Syariah terus meningkat, karena modal Bank yang semakin kuat dan Bank memiliki kesempatan yang lebih luas untuk terus mengembangkan jaringan serta produk dan layanannya,” imbuh Arief.

Sebagai informasi, Perseroan telah mempublikasikan hasil kinerja sampai dengan semester satu tahun 2020 pada akhir Juli lalu. Perseroan juga mencatat telah mengumpulkan Dana Pihak Ketiga sebesar Rp 9,46 triliun, menyalurkan pembiayaan sebesar Rp8,74 triliun, dengan menjaga Rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) sebesar 1,8%.

BACA JUGA : Subsidi Gaji Rp600 Ribu Pemerintah Ditunda, Menaker Janji Empat Hari Cair

Sedangkan Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih kuat di posisi 42,3%. Rasio intermediasi (Financing to Deposit Ratio/FDR) mencapai 92%, Likuiditas Jangka Pendek dan Panjang (NSFR and LCR) di angka 190% dan 244%. Total aset tumbuh 10% menjadi Rp15,27 triliun, dan mencatatkan Laba bersih setelah pajak (NPAT) mencapai Rp 407 miliar.

Perseroan juga menegaskan bahwa mempelajari di masa pandemi ini segmen UMKM dan mikro tidak hanya membutuhkan bantuan yang hanya membuat survive dan meringankan beban hidup, namun juga untuk bangkit kembali, pulih seperti sedia kala.

“Mereka butuh kepercayaan diri yang tinggi dan tentunya pembiayaan baru. Karenanya, BTPN Syariah selain melakukan program pelonggaran, tentunya harus teliti untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga komunikasi yang intensif menjadi jalan terbaik untuk memahami mereka. Cara ini cukup efektif, meski dengan tetap menjalankan protokoler kesehatan yang ketat”, terang Arief. (*)

(Shifa Putri)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement