Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Politik AS hingga Jumlah Kasus Covid-19 Pengaruhi Pergerakan IHSG Pekan Depan

Rina Anggraeni , Jurnalis-Minggu, 27 September 2020 |13:37 WIB
Politik AS hingga Jumlah Kasus Covid-19 Pengaruhi Pergerakan IHSG Pekan Depan
IHSG Pekan Depan Dipengaruhi Sentimen Ketidakpastian Politik AS. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Pergerakan IHSG pada pekan depan akan dipengaruhi beberapa sentimen, salah satunya pasar keuangan dan ketidakpastian politik Amerika Serikat (AS) menjelang pemilu pada November 2020.

Presiden Donald Trump dikabarkan menolak berkomitmen untuk transfer kekuasaan secara damai jika dia kalah dalam Pilpres.

"Hal ini membuat sangat mungkin hasil pemilu disengketakan. Hal ini memang dibantah Partai Republik tentang penolakan Presiden Donald Trump untuk berkomitmen pada transfer kekuasaan secara damai bila Trump kalah dalam pemilu November," ujar Direktur Investama Hans Kwee, di Jakarta, Minggu (27/9/2020). 

Baca Juga: IHSG Sepekan Anjlok 2,24%, Asing Catat Aksi Jual Bersih Rp829,6 Miliar

Lalu, pasar keuangan dunia mendapatkan sentimen negativ dari perkembangan paket stimulus fiskal untuk mengatasi dampak pandemi Covid 19. Dikabarkan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyiapkan rencana paket stimulus virus corona senilai USD2,2 triliun.

"Diharapkan paket ini bisa divoting pada pekan depan. Paket ini menjadi sangat penting untuk membantu Amerika Serikat keluar dari resesi," katanya.

Selanjutnya peningkatan kasus Covid 19 dan rencana penguncian kembali membuat pemulihan ekonomi akan terganggu maka stimulus fiskal sangat di butuhkan. Pejabat Federal Reserve pekan lalu berbicara tentang pentingnya lebih banyak stimulus fiskal karena kebijakan moneter terbatas efektivitasnya dalam memulihkan perekonomian.

Baca Juga: Ditutup Naik 2,13%, IHSG Belum Mampu Kembali ke Level 5.000

"Pernyataan ini menurunkan kredibilitas the Fed sendiri tetapi mendorong pemerintah dan parlemen segera meloloskan stimulus fiskal baru untuk mengatasi dampak Covid 19," katanya.

Lalu, peningkatan kasus Covid 19 terjadi di banyak Negara. Di Amerika Serikat terjadi peningkatan kasus di Midwest. Prancis dan Inggris mencatat rekor kasus baru infeksi Covid-19 secara harian pada hari kamis pekan lalu. Inggris melaporkan tambahan 1.252 kasus baru dalam sehari menjadi 6.178 kasus.

"Timbul kekhawatiran gelombang kedua covid 19 terjadi di beberapa Negara Eropa telah mendorong beberapa Negara seperti Inggris, Jerman dan Prancis melakukan pembatasan baru," katanya.

Selanjutnya, terkait investor lokal cukup kuat mengangkat indeks di tengah tekanan jual asing, tetapi tidak tahu sampai berapa lama. Salah satu faktor yang diperkirakan membuat dana asing keluar adalah penanganan Covid-19 yang lemah dan kasus baru yang terus naik.

"Pengetesan di Indonesia juga masih rendah hanya 11,560 orang per 1 juta populasi jauh di bawah Filipin 32,672 apalagi Amerika Serikat yang mencapai 309,524," katanya.

Ditambah dengan berita revisi undang-undang (UU) Bank Indonesia yang berpotensi menghilangkan independen Bank Sentral serta pengalihan pengawasan industri keuangan dari OJK ke BI membuat dana asing deras keluar dari pasar keuangan Indonesia. Merubah fondasi industry keuangan di tengah badai sangat berisiko merobohkan bangunan ekonomi Indonesia.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement