JAKARTA – Pada tahun 2013, Warren Buffett (salah satu investor terkaya di dunia) membuat surat wasiat yang berisi instruksi bahwa kekayaan yang ditinggalkan untuk istrinya diinvestasikan sebanyak 90 persen pada reksa dana indeks saham berbiaya rendah dan 10 persen diinvestasikan pada obligasi pemerintah.
Mengingat usia Warren Buffett dan istrinya yang ketika tahun tersebut berusia 83 tahun, tentu alokasi ini mengejutkan kalangan perencana keuangan karena besarnya alokasi pada saham yang cenderung lebih fluktuatif dengan risiko investasi yang lebih tinggi.Namun, dengan catatan,Warren Buffett adalah salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih yang diperkirakan mencapai USD80,5 miliar (atau sekitar Rp1.194 triliun dengan kurs Rp14.835 per USD) pada tahun 2020.
1% dari kekayaan tersebut saja sudah cukup untuk biaya hidup mereka selama lebih dari 100 tahun ke depan.Jadi, dengan alokasi 90% pada saham dan 10% pada obligasi pemerintah, walaupun terjadi gejolak pada pasar saham, seharusnya masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.Oleh sebab itu, metode aset alokasi yang dia lakukan mungkin tidak bisa ditiru begitu saja oleh semua orang.
Sebenarnya dalam melakukan investasi dan perencanaan keuangan, ada beberapa metode yang biasa digunakan. Hal ini bergantung pada kondisi setiap orang yang berbeda-beda, tujuan investasi masing-masing, dan profil risikonya.
Profil risiko pun bisa berubah seiring waktu. Krisis ekonomi dapat menentukan perubahan toleransi atas risiko. Ketika ekonomi dan kondisi investasi sedang baik dan pasar saham bullish, sebagian besar orang akan merasa agresif dan cenderung mengisi pilihan tingkat risiko yang ada di lembar kuesioner dengan kecenderungan yang tinggi terhadap toleransi risiko.
