Mengerikan, 38 Juta Penduduk Asia Timur-Pasifik Akan Jatuh Miskin akibat Covid-19

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 29 September 2020 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 29 320 2285448 mengerikan-38-juta-penduduk-asia-timur-pasifik-akan-jatuh-miskin-akibat-covid-19-IPSfzOH8G3.jpg Ekonomi (Shutterstock)

JAKARTA - Bank Dunia (world Bank) merilis laporan Ekonomi untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober, Selasa (29/9/2020). Dalam laporannya memprediksi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan di kawasan tersebut mengalami penambahan sebanyak 38 juta orang pada tahun 2020.

"Termasuk 33 juta orang yang seharusnya sudah dapat lepas dari kemiskinan, dan 5 juta lainnya terdorong kembali ke dalam kemiskinan (menggunakan batas garis kemiskinan pada USD5,50 per hari (2011 PPP))," kutip laporan tersebut.

 Baca juga: Duh, Perempuan Miskin di Indonesia Paling Banyak

Selain itu, dampak pandemi terhadap angkatan kerja dan pendapatan dirasakan besar dan tersebar luas. Angka penjualan yang dicapai oleh perusahaan di sebagian negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik mengalami penurunan sebesar 38% hingga 58% pada bulan April dan Mei 2020, dibandingkan dengan di bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

"Perusahaan-perusahaan besar tampak mampu pulih lebih cepat daripada usaha berskala kecil dan menengah, di mana UKM lebih rentan terhadap krisis dan kurang begitu mampu untuk beradaptasi dengan menggunakan platform digital. Baik pegawai dengan gaji maupun yang bekerja bagi usaha keluarga mengalami penurunan pendapatan secara signifikan," tulis laporannya.

 Baca juga: Sri Mulyani Akui Orang Miskin dan Pengangguran Makin Banyak

Namun, dalam laporannya mencatat prospek pertumbuhan ekonomi bagi kawasan Asia Timur pada 2021 membaik. Di mana pertumbuhan diharapkan mencapai 7,9% di China dan 5,1% di negara-negara lain di kawasan ini.

Prospek pertumbuhan ekonomi itu berdasarkan asumsi terjadinya pemulihan dan normalisasi kegiatan secara berlanjut di negara-negara besar, dikaitkan dengan kemungkinan diproduksinya vaksin.

"Akan tetapi, output diproyeksikan tetap berada di bawah angka proyeksi sebelum pandemi selama dua tahun ke depan. Prospeknya yang tidak baik khususnya bagi beberapa negara di Kepulauan Pasifik yang sangat terdampak, di mana output diproyeksikan tetap berada di 10% di bawah angka sebelum krisis, selama tahun 2021," Tulis laporan Bank Dunia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini