Marak Kejahatan Digital, Perbankan Dunia Rugi Rp2.547 Triliun

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 13:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 320 2286124 marak-kejahatan-digital-perbankan-dunia-rugi-rp2-547-triliun-a0OP6Zvs84.jpg ATM (Shutterstock)

JAKARTA - GBG selaku perusahaan teknologi global dalam Manajemen Fraud dan Compliance mencatat kejahatan digital telah membuat perbankan di seluruh dunia banyak menelan kerugian. Hal ini dikarenakan penjahat digital banyak terjadi pada perbankan.

APAC Managing Director GBG June Lee mengatakan perbankan di seluruh dunia telah menelan kerugian mencapai USD171 miliar atau Rp2.547,39 triliun (Kurs Rp14.897 per USD). Adapun kerugian itu sepanjang lima tahun terakhir.

 Baca juga: Bos BI Minta Perbankan Adopsi Open Banking, Apa Itu?

"Periode itu sepanjang 5 tahun jenis fraud yang dijelaskan itu pengumpulan data secara digital dari berbagai pihak yang enggak seharusnya dilakukan yang mana dilakukan penjahat digital," ujar June dalam diskusi virtual, Rabu (30/9/2020).

Dia melanjutkan kejahatan digital yang mengincar nasabah perbankan modusnya bermacam-macam. Salah satunya mendapatkan pesan elektrinok yang mengiming-imingkan upah jika mau membuka rekening bank untuk membantu mengelola transaksi pihak lain.

 Baca juga: Siap-Siap, Bank Bakal Dapat Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek

"Iming-imingnya buka jasa rekening bank, jika iya, berarti anda sudah masuk penipuan umum yang memadukan scam dengan first party fraud sehingga menjadikannya sulit untuk dideteksi, namanya adalah money mule," katanya.

Dia menambahkan saat ini penjahay digital memiliki modus baru. Diantaranya melibatkan rekayasa atau social engineering dan skema first party fraud, penipu memperoleh uang dari korban dengan meminta korban untuk membuka rekening bank dan mengelola transaksi.

"Money mule dinilai sebagai tipe fraud terbesar kedua yang memiliki dampak signifikan kepada institusi finansial di Indonesia tahun 2019," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini