Produk Pinjol di Indonesia Lampaui Negara Lain, Awas Ditipu

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 320 2286130 produk-pinjol-di-indonesia-lampaui-negara-lain-awas-ditipu-CvzJgGkFM4.jpg Waspada Pinjaman Online di Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - GBG selaku perusahaan teknologi global dalam Manajemen Fraud dan Compliance melakukan penelitian tingkat fraud atau kejahatan penipuan di Indonesia. Hasilnya tidak menunjukkan adanya penurunan.

Bahkan, tipe kejahatan dengan model money mule diprediksi meningkat drastis di 2020-21 yang berdampak pada konsumen sektor perbankan dan finansial.

APAC Managing Director GBG June Lee mengatakan, pandemi Covid-19 dan implementasi PSBB mendorong konsumen institusi finansial untuk menggunakan aplikasi seluler dan situs online untuk mengakses produk dan layanan keuangan menjadi faktor peningkatan fraud.

Baca Juga: OJK Sebut Fintech Pembayaran dan Pinjaman Paling Laris di RI

"Salah satu contoh terbesar adalah layanan pinjaman online (pinjol) yang kini menjadi prioritas teratas bagi 43% institusi finansial di Indonesia untuk tahun 2020-21 dalam menyediakan akses cepat ke pinjaman apabila PSBB diperpanjang. Hal ini terbukti dengan terakselerasinya produk pinjaman online di Indonesia yang melampaui negara-negara lain di Asia Pasifik tahun ini maka adanya fraud makin tinggi," ujar June dalam diskusi virtual, Rabu (30/9/2020).

Kata dia, pemalsuan Identitas (55%) dan Pencurian Identitas (53%) masuk bersama-sama dengan money mule dalam jenis fraud dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Indonesia tahun ini. Melihat hal ini, institusi finansial di Indonesia disarankan untuk lebih menjaga keamanan digital nasabahnya.

Baca Juga: 91,3 Juta Penduduk Indonesia Belum Tersentuh Perbankan

"Kebutuhan untuk segera melakukan transisi dan mendukung adopsi layanan keuangan digital merupakan tantangan terbesar bagi institusi finansial di Indonesia," tandasnya

Dia menambahkan saat ini intituisi finansial di Indonesia tengah memerangi penipuan dan serangan siber yang semakin rumit dan berkembang pesat.

"Ini bersamaan dengan meningkatnya penggunaan internet," bebernya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini