Tak Panik dengan Demo UU Cipta Kerja, Investor Saham Lebih Takut Ini

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 11 Oktober 2020 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 11 278 2291829 tak-panik-dengan-demo-uu-cipta-kerja-investor-saham-lebih-takut-ini-R8LYO5kOEM.jpg Penolakan UU Cipta Kerja Pengaruhi Pasar Saham. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Penolakan Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja berlangsung anarkis beberapa waktu lalu. Meski demikian, hal tersebut tidak membuat pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) panik.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pasar saham tetap positif karena demo berlangsung pendek dan tidak punya pengaruh besar pada perekonomian. Akan tetapi di tengah pandemi Covid 19 aksi demo akan menyebabkan klaster baru penyebaran virus Covid-19.

Baca Juga: Pilpres Amerika Jadi Motor Penggerak IHSG Pekan Depan

“Kami perkirakan akan terjadi lonjakan kasus positif covid 19 satu minggu setelah demo yang terjadi. Pemerintah perlu bertindak tegas dengan menindak segala bentuk demo anarkis dan terjadi pelanggaran protokol kesehatan untuk menekan peningkatan kasus Covid-19,” tuturnya, Minggu (11/10/1010).

Seluruh dunia termasuk Indonesia masih menghadapi peningkatan kasus Covid-19. Beberapa Negara menghadapi ancaman gelombang kedua menjelang musim digin. PSBB Total di DKI Jakarta tidak terlalu efektif menekan angka kasus baru Covid-19 dan sebaiknya dihentikan.

“Pasar mencerna dengan seksama berapa sektor akan positif akibat dampak Omnibus Low,” tuturnya.

Baca Juga: IHSG Berhasil Ditutup Naik 0,29% ke 5.054

Menurutnya, Omnibus Law UU Cipta Kerja memberikan banyak sentimen positif bagi dunia bisnis dan ekonomi Indonesia. Dampaknya memang akan terasa dalam jangka panjang.

Sektor Manufaktur mendapatkan manfaat dan berpeluang mendapatkan realokasi pabrik dari China ke Negara Asia Tengara. Hal ini positif karena kemudahan investasi bagi pemodal asing akan mengurangi ketergantungan foreign inflow ke dunia keuangan.

UU ini juga melindungi buruh dari potensi kehilangan pekerjaan akibat usaha pindah ke luar negeri, tutup karena kalah bersaing, investor asing tidak masuk untuk berusaha di Indonesia. UU juga dipandang positif bagi berbagai sektor usaha, meningkatkan investasi dan konsumsi domestik.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini