Orang Kaya Tahan Uang untuk Belanja, Aprindo: Memang Situasi Belum Normal

Ferdi Rantung, Jurnalis · Sabtu 07 November 2020 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 07 320 2305802 orang-kaya-tahan-uang-untuk-belanja-aprindo-memang-situasi-belum-normal-OidqLfHA4f.jpg Aprindo Sebut Situasi Saat Ini Belum Normal. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey menilai setelah punic buying di awal pandemi Covid-19, kalangan menengah atas tidak lagi membelanjakan uangnya. Dana yang ada pun kebanyakan untuk disimpan.

"Jadi memang situasinya saat pemerintah mengumumkan bahwa Covid-19 sudah ada di Indonesia Maret, pada saat pengumumannya itu situasinya sempat ada panic buying. Kita dalam posisi yang justru bagus dalam dua tiga hari pertama. Tetapi setelah itu sampai hari ini kalau ditanya bagaimana kondisinya? ya belum kembali belum dalam posisi yang normal," katanya dalam polemik MNC Trijaya FM bertajuk 'Efek Resesi di Tengah Pandemi', Sabtu (6/11/2020).

Baca Juga: Pelaku Usaha Belum 100% Terapkan Protokol Kesehatan

Dia mengungkapkan, kalangan yang memiliki uang lebih aware terhadap kesehatan. Sebab, edukasinya jauh lebih tinggi, sehingga mereka lebih mengikuti berita yang diinformasikan oleh media.

"Mereka melihat, bagaimana yang zona merah dan zona hijau? Bagaimana perkembangan pandemi? Masih PSBB dan lain-lain sehingga mereka menahan belanja. Dan ketika mereka keluar rumah itu suatu keputusan yang sangat luar biasa" ungkapnya.

Baca Juga: Produk Prancis Diboikot, 4,5 Juta Pekerja di Sektor Ritel Terancam

Sedangkan, untuk menengah ke bawah itu posisinya sedang suffer. Mereka kehilangan daya beli karena di rumahkan, dipotong gajinya dan PHK, sehingga untuk makan saja sudah bagus.

"Tentu mereka hanya akan berpikir bagaimana untuk melanjutkan hidup," tuturnya

Kondisi ritel saat ini juga belum kembali normal. Indeks Penjualan Riil dari bulan ke bulan masih minus di bawah 10%.

Meski ada kontraksi positif, tetapi kontraksinya itu masih single digit antara 5%-6%. Sama dengan kontraksi perekonomian yang ter kontraksi positif antara quarter to quarter tetapi year-on-year nya masih minus.

"Jadi situasinya memang belum normal, dan underperform sekali," tandasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini