JAKARTA - Ada lima faktor pendukung utama penunjang pemulihan ekonomi di antaranya peresmian Omnibus Law menjadi UU Nomor 11 tahun 2020 yang akan menciptakan kerangka hukum yang lebih kuat, dengan perkiraan detail peraturan dalam beberapa minggu ke depan.
"Kedua, likuiditas yang kuat yang memastikan adanya demand yang cukup untuk fase pemulihan. Ketiga, hasil Pemilu AS, dengan antisipasi adanya minat yang lebih kuat terhadap pertumbuhan pasar Emerging Market, terutama Indonesia yang beberapa tahun ke belakang ini terus mengalami foreign outflow," kata Direktur BRI Danareksa Sekuritas Boumediene Sihombing saat webinar di Jakarta, Rabu (11/11/2020).
Keempat, adanya roadmap yang jelas untuk menekan perkembangan pandemi melalui vaksinasi yang akan mendukung pemulihan bisnis. Kelima, parameter makro yang membaik seperti rupiah yang stabil serta inflasi yang terkendali akan memberikan ruang untuk fleksibilitas kebijakan moneter apabila diperlukan.
Melihat berbagai parameter dan berbagai faktor ini, sambung dia, maka tahun 2021 diperkirakan menjadi waktu yang tepat untuk melakukan proses IPO.
"Tahun 2021 merupakan timing yang tepat bagi perusahaan startup yang ingin melantai di Bursa, dengan beberapa pertimbangan seperti perkembangan teknologi yang pesat selama Covid-19 mampu mengubah pola hidup masyarakat, dimana teknologi menjadi aset yang paling dicari oleh investor baik retail maupun institusi," jelas dia.
Selanjutnya adanya peningkatan jumlah investor ritel pasar modal per Oktober 2020 yang telah mencapai lebih dari 4,1 juta investor, atau meningkat lebih dari 1 juta investor dariposisi sama tahun lalu, terutama dari kalangan milenial.
Selain itu, ada akses kepada pendanaan baru. Dengan menjadi perusahaan publik maka akan memberikan akses yang lebih mudah terhadap berbagai sumber pendanaan untuk pertumbuhan perusahaan ke depannya.
"Electronic Initial Public Offering (e-IPO) mulai Januari 2021 mendatang, memberikan kemudahan bagi calon emiten maupun para investor untuk berpartisipasi dalam IPO," ujar Boumediene.
Tahun depan ada tren pergeseran dari business model atau produk yang berbasis konvensional ke sesuatu yang mengarah ke digitalisasi.
Dampak sinergi kebijakan antara stimulus fiskal pemerintah dan kebijakan moneter ekspansif mulai terlihat. Selain itu, reformasi hukum baru-baru ini akan menghasilkan inflow yang lebih kuat tahun depan
Sementara peningkatan agregat demand domestik akan tetap menjadi penunjang utama pemulihan ekonomi.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.