Head to Head dengan Filipina, RI Siap Rajai Ekspor Buah ke Eropa

Fadel Prayoga, Jurnalis · Rabu 25 November 2020 17:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 25 320 2316121 head-to-head-dengan-filipina-ri-siap-rajai-ekspor-buah-ke-eropa-ObA3GdAgEN.jpg Ekspor Buah RI ke Eropa Bersaing dengan Filipina. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia siap bersaing dengan Filipina dalam hal ekspor buah ke Eropa. Dengan fasilitas pemotongan tarif yang digagas melalui EU-CEPA diharapkan harga buah tropis asal Indonesia bisa makin merajai pasar Eropa.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga meyakini bahwa EU-CEPA bisa menjadi jalan bagi peningkatan ekspor buah ke Eropa. Eropa sendiri adalah salah satu pasar besar buah tropis seperti nanas, pisang dan manggis.

Baca Juga: Ekspor ke AS, RI Bisa Berjaya di Bidang Teknologi

“Tadi saya dapat masukan bahwa untuk saat ini buah Indonesia sangat diminati di pasar Eropa. Untuk nenas saja, kita menguasai pangsa pasar lebih dari 25% di Eropa. Kita bahkan bisa menang dari pesaing kita seperti Filipina yang tidak dikenakan tarif impor. Indonesia sendiri justru dikenakan tarif impor sebesar 14,9%. Dengan EU-CEPA kita bisa sama dengan Filipina, tarif impornya nol persen dan pasti kita akan menguasai lebih banyak pasar di Eropa,” kata Jerry, dalam keterangannya, Rabu (25/11/2020).

Baca Juga: Naik 37%, RI Jadi Eksportir Perhiasan Terbesar

Kementerian Perdagangan semakin termotivasi untuk segera menyelesaikan perundingan EU-CEPA. Bukan hanya buah, keberhasilan perundingan akan mendorong produk-produk barang dan jasa asal Indonesia bisa makin mudah menembus pasar Eropa.

Sebelumnya, EU-CEPA rencananya akan diselesaikan tahun ini, tetapi karena pandemi beberapa ronde perundingan harus tertunda sementara.

Menurut Jerry, pasar besar buah Indonesia sebenarnya bukan hanya di Uni Eropa tetapi justru yang dekat ada di China, Jepang dan Timur Tengah. China membutuhkan jumlah buah tropis yang sangat besar yang harus ditangkap peluangnya oleh para pengusaha.

“China relative dekat dengan Indonesia disbanding Eropa. Saat ini mereka lebih banyak mendapat pasokan buah tropis dari negara-negara Amerika Tengah seperti Costarica. Itu peluang yang sangat besar bagi Indonesia. Apalagi sekarang ada RCEP, kita akan dorong terus semua pengusaha, termasuk pengusaha buah ekspor agar bisa memanfaatkan fasilitasi dari hasil RCEP.” Tambah Jerry.

Pasar lain yang potensial menurut masukan dari para pengusaha adalah Timur Tengah, termasuk Turki dan Iran. Di Turki buah Indonesia masih dikenakan tarif hingga 48%. Sedangkan di Iran, buah Indonesia belum bisa diperdagangkan langsung karena mekanisme blockade yang dilakukan Amerika Serikat. Menanggapi masukan tersebut, Wamendag akan menindaklanjuti dengan memasukkan masukan-masukan pengusaha dalam butir-butir perundingan IT-FTA dan Indonesia-Iran FTA.

“Kita juga sedang melakukan perundingan dengan Turki dan Iran. Keduanya pasar yang sangat besar. Kita berharap bisa cepat menyelesaikannya sehingga para pengusaha kita bisa terbantu," ujarnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini