Target Minyak 1 Juta Barel/Hari, Sri Mulyani: Tidak Mudah

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 02 Desember 2020 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 320 2320172 target-minyak-1-juta-barel-hari-sri-mulyani-tidak-mudah-q3IpVaZkIA.jpg Sri Mulyani (Instagram: SMIndrawati)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Kemenkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut, upaya untuk mendorong pertumbuhan menuju 1 Juta Barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari pada 2030 melalui transformasi hulu migas sangat relevan. Meski begitu, pandemi Covid-19 masih mengancam sektor pertambangan dan migas.

Di mana, terjadinya penurunan permintaan secara signifikan di tingkat global, termasuk Indonesia. Hal itu disebabkan perangkat pasokan yang mendapat tekanan oleh banyak faktor pada saat pandemi Covid-19.

 Baca juga: Menteri ESDM Prediksi Konsumsi Minyak Naik 139% di 2050

Bagi Indonesia, situasi tersebut memang membutuhkan banyak perhatian dari sejumlah pihak yang terkait. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga mengutarakan, sektor migas telah berjuang cukup lama. Bahkan, selama menjabat sebagai Menteri Keuangan sekitar 10 tahun yang lalu, dia menyebut, pembahasan penurunan produksi migas pun sudah terjadi.

Dia menilai, ada beberapa hal yang perlu ditangani pemerintah agar dapat meningkatkan tingkat produksi atau lifting, baik di bidang minyak maupun gas. Salah satunya adalah rumusan kebijakan yang tepat terkait dengan dorongan untuk mengeksplorasi migas. Kebijakan baru dinilai perlu karena saat ini migas masih mengandalkan produksi lama.

 Baca juga: Harga Minyak Anjlok Imbas OPEC Tunda Pemotongan Produksi

"Semuanya telah menurun karena usia alaminya, akan menjadi sesuatu yang tidak bisa kita gunakan sebagai pendekatan. Maka dari itu, kami perlu mempersiapkan strategi baru," ujar Sri Mulyani, Rabu (2/12/2020).

Untuk produksi yang sudah ada, pemerintah akan memastikan ada efisiensi, mengingat perubahan yang tidak tetap dari harga minyak dan gas. Namun di saat yang sama, dia juga ingin mendorong SKK Migas serta industri untuk terus melakukan eksplorasi.

"Memang tidak mudah, apalagi dengan proyeksi harga minyak yang juga belum pulih dengan cepat. Tapi eksplorasi ini bisa dilakukan dengan teknologi serta dukungan pemerintah," kata dia.

Mengenai harga minyak, pemerintah melihat perubahan dan ketidaktetapan yang dramatis selama pandemi berlangsung. Bahkan, di beberapa titik, pemerintah juga mencatat harga minyak yang negatif yang belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun hanya untuk dua hari.

"Hal ini menunjukkan betapa menantang dan luar biasanya situasi yang sedang kita hadapi ini, termasuk dalam industri minyak dan gas," kata dia.

Dalam gelaran International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas, Sri Mulyani menegaskan, minyak dan gas masih menjadi strategi komoditas yang penting untuk perkembangan Indonesia. Khususnya selama pandemi Covid-19 yang masih mengancam, sejumlah pihak harus waspada dan memikirkan secara fundamental strategi-strategi untuk ke depannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini