Ada Tapera, Pengusaha Properti Yakin Bisa Bangkit Pasca-Corona

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Jum'at 11 Desember 2020 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 470 2325803 ada-tapera-pengusaha-properti-yakin-bisa-bangkit-pasca-corona-TMv2UwLwzE.jpeg Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Pengusaha properti optimistis bisnis di sektor ini bisa bangkit lagi. Mengingat selama pandemi, pelemahan ekonomi memaksa calon pembeli menunda rencana mereka untuk membeli rumah. Untuk itu, pemerintah membuat beberapa alternatif kebijakan untuk sektor properti.

Direktur Utama PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP) Indriati mengatakan, kebijakan pemerintah untuk sektor properti membuat perusahaan optimis sektor ini akan bangkit. Pemerintah telah menyiapkan skema subsidi dan intervensi yang lebih tepat.

Baca juga: Ada Bank Tanah, Biaya Bangun Rumah di Perkotaan Bisa Lebih Murah

Selain itu, pembangunan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dilakukan secara padat karya dan bahan bangunan menggunakan industri dalam negeri.

"Sektor properti itu punya demand yang tidak pernah habis sampai sejauh ini. Kemudian kebijakan pemerintah untuk sektor properti ini sangat menguatkan kita utamanya dalam hal KPR bersubsidi. Belum lagi Tapera yang diluncurkan di tahun 2021," ujarnya pada Market Review IDX Channel, Jumat (11/12/2020).

 Baca juga: Sofyan Djalil Ungkap Penyebab Harga Properti di Tempat Wisata Mahal

Dia melanjutkan, industri properti juga memberikan multiplier effect untuk 140 industri lainnya seperti material bahan bangunan, genteng, semen, paku, besi, kayu, dan lainnya yang mendukung pertumbuhan sektor ini.

"Itu yang membuat kami di perusahaan tertantang untuk terus konsekuen dalam sektor properti ini," imbuhnya.

Indriati menuturkan, perusahaan lebih berfokus pada segmen KPR bersubsidi di mana targetnya kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Kendati demikian, pandemi Covid-19 ini membuat perbankan lebih ketat dalam menyeleksi pembelian rumah.

"Kendalanya dari kebijakan perbankan yang lebih melakukan sedikit semacam pengetatan untuk pembelian KPR terhadap konsumen, karena adanya restrukturisasi akibat adanya pandemi ini. Tapi secara demand tetap menarik," ungkapnya.

Adapun perusahaan properti rumah bersubsidi ini lebih berfokus ke daerah Jawa Barat mengingat secara nasional permintaannya yang paling tinggi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini