Ini Kriteria Penggalangan Dana Lewat Penawaran Saham Berbasis Teknologi

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 17 Desember 2020 12:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 278 2329335 ini-kriteria-penggalangan-dana-lewat-penawaran-saham-berbasis-teknologi-i9b7csl6ZR.jpg saham (Shutterstock)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan membuka kembali permohonan perizinan sebagai Penyelenggara Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham (equity crowd funding/ECF). Hal ini setelah sempat dihentikan beberapa waktu menunggu terbentuknya asosiasi yang menaungi Penyelenggara ECF.

Ketua Dewan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan peraturan tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi merupakan pengganti POJK Nomor 37/POJK.04/2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding).

 Baca juga: BEI: 2020, Momen Kebangkitan Investor Domestik di Pasar Modal

"Penggantian ini diperlukan untuk mengakomodir kebutuhan Usaha Kecil Menengah dalam memanfaatkan layanan urun dana sebagai salah satu sumber pendanaan di Pasar Modal, yaitu dengan melakukan perluasan instrumen Efek yang dapat ditawarkan melalui layanan urun dana sehingga tidak hanya berbentuk saham (Efek bersifat ekuitas) tetapi juga dapat berupa Efek bersifat utang atau Sukuk," kata Wimboh di Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Berikut kriteria penyelenggara antara lain:

 Baca juga: Pandemi, Awal Bangkitnya Investor Ritel Saham Indonesia

a. Penyelenggara yang akan melakukan Layanan Urun Dana wajib memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan;

b. Penyelenggara merupakan badan hukum Indonesia berbentuk perseroan terbatas atau koperasi;

c. Kepemilikan saham Penyelenggara oleh warga negara asing dan/atau badan hukum asing, baik secara langsung maupun tidak langsung paling banyak 49%; dan

d. Penyelenggara harus memiliki modal disetor atau modal sendiri paling sedikit Rp2,5 Miliar pada saat mengajukan permohonan izin.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini