Tinggal di Desa Paling Dingin di Bumi, Bagaimana Rasanya?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 27 Desember 2020 11:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 27 470 2334394 tinggal-di-desa-paling-dingin-di-bumi-bagaimana-rasanya-uK9S2Uy5QH.jpg Desa Dingin di Bumi (Foto: BBC Indonesia)

JAKARTA - Desa Verkhoyansk, di Rusia timur, mendapat julukan salah satu desa paling dingin di muka bumi, karena suhu udara bisa mencapai -67,8 derajat Celsius.

Gelar resmi sepertinya belum dikukuhkan karena ada desa lain, Oymyakon, juga di Rusia timur, yang ingin mendapat atribut sebagai desa paling dingin di muka bumi. Di Omyakon, suhu udara pernah mencapai -65 derajat Celsius, yang dicatat pada Januari 1973.

Suhu -50 derajat Celsius adalah hal yang lumrah bagi warga Omyakon dan anak-anak di sini tetap ke sekolah seperti biasa. Kegiatan belajar mengajar baru akan ditutup jika suhu udara di bawah -52 derajat Celsius.

Desa Dingin BBC Indonesia 

Meski Verkhoyansk belum resmi menyandang atribut sebagai desa paling dingin, warga di sini bisa merasa senang karena Guinness World Record sudah menetapkan Verkhoyansk sebagai tempat dengan rentang temperatur paling ekstrem di dunia.

Di Verkhoyansk, suhu di musim dingin bisa mencapai -67,8 derajat sementara di musim panas temperatur melonjak ke 37,3 derajat.

Dengan suhu -60 derajat, bagaimana kehidupan di tempat ini?

Beterai hanya tahan beberapa menit, tinta pena membeku

Temperatur begitu dingin, sehingga baterai hanya bertahan beberapa menit saja.

Tinta pena membeku sebelum pena bisa dipakai untuk menulis dan memakai bingkai kacamata berbahan logam juga sangat tidak dianjurkan karena bisa berbahaya.

Warga setempat juga tidak mematikan kendaraan sepanjang hari, karena khawatir kalau dimatikan, mesin tidak bisa lagi dihidupkan. Kalau mesin mati, warga bisa menunggu hingga musim semi mendatang untuk menghidupkan kendaraan.

Desa Dingin BBC Indonesia 

Bagaimana dengan pasok air bersih? Agar bisa dialirkan ke rumah-rumah warga, air harus dialirkan dalam suhu tinggi agar tidak membeku di dalam pipa. Karenanya, air ini tidak bisa diminum.

Untuk kebutuhan air minum, warga memanfaatkan balok-balok es, yang disimpan di pekarangan rumah. Balok ini dimasukkan ke dalam rumah dan dicairkan untuk dipakai sebagai sumber air minum.

Di Verkhoyansk terdapat menara 3G yang memungkinkan warga tersambung ke internet.

Dengan begitu, warga, terutama anak-anak muda, bisa mengakses Instagram dan membagikan suasana dan kehidupan di desa beku ini kepada dunia.

Jumlah warga di desa ini, menurut sensus pada 2017, sekitar 1.131 orang, setengah dari jumlah 15 tahun lalu. Banyak anak muda yang memilih meninggalkan desa dan pindah ke kota, termasuk, Ayal, remaja berusia 15 tahun. Ayal hidup bersama ibunya di desa yang dingin ini sebelum pindah ke kota.

Salah satu kota yang banyak dituju adalah Yakutsk, yang terletak 600 kilometer jauhnya dari Desa Verkhoyansk. Sambil menunggu kepindahan ke kota, Ayal senang berjalan-jalan di desanya menikmati hamparan salju dan gedung-gedung yang kosong. Dia juga senang dengan makanan ala desa, Stroganina, irisan tipis daging ikan, yang dimakan mentah, dengan dicampur lada dan garam.

Setahun sekali saudara-saudara Ayal pulang, biasanya di puncak musim panas. Tiket dari Yakutsk ke Verkhoyansk sangat mahal, bisa mencapai jutaan rupiah untuk tiket pulang-pergi. Perusaahaan maskapai memakai pesawat yang berasal dari era Soviet, Antonov AN-24. Kondisi cuaca yang sulit menyebabkan enam pesawat jatuh sejak 2003.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini