Proyeksi Tren Wisatawan 2021, Tak Ada Lagi Rombongan Besar

Hafid Fuad, Jurnalis · Sabtu 02 Januari 2021 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 02 320 2337598 proyeksi-tren-wisatawan-2021-tak-ada-lagi-rombongan-besar-kgUb8Jk4QF.jpg Tren Wisata 2021. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari memberikan proyeksi beberapa tren wisata ke depan.

Menurutnya pemerintah harus mengantisipasi perubahan tren akibat pandemi karena minat wisata dunia telah melompat. Salah satunya, pola wisatawan saat ini yang mengarah pada small size tourism.

Baca Juga: Tahun Baru 2021, Sandiaga Uno: Awal Bangkitnya Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

"Tren usai pandemi, yaitu small size tourism. Orang nanti akan bepergian dengan kelompok kecil, tidak lagi datang dengan bus-bus besar rombongan,” ujar Azril, Jakarta, Sabtu (2/1/2020).

Menurutnya, fokus pariwisata kini bukan lagi soal quality tourism, tetapi destinasi yang menjamin keselamatan, kesehatan, dan sanitasi yang baik. Meskipun program CHSE sudah tepat, tetapi tidak boleh berhenti. Menurutnya Menparekraf harus berpikir jauh dan mempersiapkan dengan matang.

Baca Juga: Sandiaga Uno: Presiden Jokowi Tak Ingin Promosi di Tempat yang Salah

Persiapan harus dilakukan dari jauh-jauh hari, agar industri dapat memberikan pelayanan yang maksimal sesuai dengan ekspektasi para wisatawan. Yaitu, untuk mendapatkan pengalaman berkesan, dan juga keamanan kesehatan selama menikmati liburannya.

"Para wisatawan tentu mencari sesuatu yang tidak ada di negaranya. Misalnya jangan tawarkan hotel karena di negara mereka itu sudah biasa. Berikan konsep lain untuk pengalaman berkesan mereka," lanjutnya.

Dia mendorong memperbanyak alternatif accomodation dibandingkan bangunan hotel. Pilihan non hotel tersebut ada banyak seperti konsep vila ataupun homestay di rumah warga. Bahkan menurut dia yang sebenarnya dicari wisatawan menengah atas adalah penginapan dengan konsep menyatu dengan alam.

"Konsep yang dibutuhkan seperti rumah pohon atau kamar di antara batu karang sehingga bisa melihat ikan-ikan. Dengan begitu kamarnya bisa dijual jauh lebih tinggi. Ini tentu juga berarti akan ramah lingkungan. Sedangkan bangunan hotel hanya menguntungkan investor dan merusak lingkungan. Harusnya menyejahterakan masyarakat di sana," katanya.

Tren berikutnya yang harus dikembangkan adalah teknologi. Salah satunya adalah layanan robot di kamar akan diminati wisatawan. Teknologi lainnya Virtual Reality menarik minat yang besar terhadap teknologi ini, seiring dengan tampat-tempat wisata yang mulai menggunakan teknologi ini sebagai atraksi wisata buatan pengganti atraksi pada realitas nyata.

Contohnya di Guizou, Cina telah hadir taman tematik (theme park) yang menyuguhkan Hiburan Virtual Reality terbesar di sana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini