Jokowi: Hati-hati Potensi Krisis Pangan, Kita Harus Serius!

Fahreza Rizky, Jurnalis · Senin 11 Januari 2021 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 320 2342405 jokowi-hati-hati-potensi-krisis-pangan-kita-harus-serius-WBkPeLdEKB.png Jokowi (Foto: BPMI Setpres)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, di masa pandemi corona, pengelolaan pangan dan sektor pertanian menempati posisi sentral.

Pekerjaan di bidang tersebut harus diseriusi agar Indonesia tidak terjerembab pada krisis pangan, sebagaimana diperingatkan Food and Agriculture Organization (FAO).

"FAO memperingatkan potensi terjadinya krisis pangan, hati-hati mengenai ini, hati-hati," ucap Jokowi saat membuka Rakernas Pembangunan Pertanian 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Baca Juga: Ridwan Kamil Ingatkan Warga Jabar Potensi Krisis Pangan pada 2021 

Menurut dia, adanya kebijakan pembatasan mobilitas warga di tengah pandemi corona dapat berdampak pada urusan distribusi barang dan pangan antarnegara atau dunia.

"Penduduk Indonesia sudah 270 juta lebih, oleh sebab itu pengelolaan berkaitan dengan pangan itu harus betul-betul kita seriusi, pembangunan pertanian harus kita seriusi secara detail," jelas Jokowi.

Kata dia, ketersediaan komoditas pertanian yang masih impor seperti kedelai, jagung, gula, bawang putih, beras, dan lain-lain, harus diwaspadai. Meskipun saat ini tidak impor, namun ke depannya harus diantisipasi.

"Meskipun sudah hampir dua tahun kita tidak impor beras, ini saya mau lihat lapangannya kondisinya seperti apa, apakah konsisten bisa kita lakukan untuk tahun-tahun mendatang," jelas Kepala Negara.

Jokowi ingin jajarannya membuat desain khusus untuk menyelamatkan ketersediaan pangan yang biasanya harus impor.

"Barang-barang ini harus diselesaikan, tapi urusan bawang putih, gula, jagung, kedelai, dan komoditas lain yang masih impor, tolong jadi catatan dan segera dicarikan desain yang baik agar bisa kita selesaikan," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, dalam beberapa waktu terakhir tahu dan tempe menjadi barang langka. Hal tersebut terjadi karena mahalnya harga kedelai dan stoknya semakin menipis. Indonesia sendiri bergantung dengan kedelai impor. Kontribusi petani lokal terhadap komoditas ini masih cukup minim. Namun di sisi lain permintaan atas barang pangan itu terus meningkat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini