6 Fakta Surplus Neraca Perdagangan 2020, Tertinggi dalam Sejak 2011

Dian Ayu Anggraini, Jurnalis · Sabtu 30 Januari 2021 09:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 29 320 2352867 6-fakta-surplus-neraca-perdagangan-2020-tertinggi-dalam-sejak-2011-7spW1tR4Sq.jpg Neraca Dagang Surplus (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada 2020 mengalami surplus senilai USD21,7 miliar. Surplus neraca dagang selama 2020 ini menjadi yang tertinggi dalam 9 tahun terakhir atau setelah 2011.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus tersebut didapatkan karena nilai ekspor selama 2020 mencapai USD 163,31 miliar. Angka ini turun 2,61% dibandingkan 2019 yang mencapai USD167,68 miliar. Sedangkan untuk impor selama tahun lalu mencapai USD 141,57 miliar.

Terkait hal itu, Okezone telah merangkum sejumlah fakta menarik soal Surplus Neraca Perdagangan 2020, Jakarta, Sabtu (30/1/2021).

1. Surplus Neraca Perdagangan 2020 Tertinggi dalam 9 Tahun

Surplus neraca dagang selama 2020 ini menjadi yang tertinggi dalam 9 tahun terakhir atau setelah 2011. Nilai ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2019, dimana mengalami defisit USD 3,59 miliar.

Baca Juga: Mendag Khawatir soal Surplus Neraca Dagang, Ini Kata Pengusaha

"Kalau melacak ke belakang, surplus neraca perdagangan tahun 2020 ini tertinggi sejak 2011, di mana pada 2011 itu surplus USD 26,06 miliar," ujar Kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers secara virtual, Jumat (15/1/2021).

2. Menjadi Stabilitas di tengah resesi

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, surplus sangat penting di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang sedang resesi. Adanya surplus perdagangan membuat stabilitas ekonomi Indonesia menjadi kuat.

Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, Ibarat Lari Maraton tapi Terkilir Kakinya

"Secara tidak langsung kondisi surplus ini menimbulkan terciptanya stabilitas meskipun dalam resesi ekonomi. nah ini sangat penting untuk pemulihan ekonomi yang lebih stabil." ujarnya.

3. Jokowi Minta Jangan Berpuas Diri

Presiden Joko Widodo menyinggung data realisasi investasi selama tiga kuartal di tahun 2020 mencapai Rp611,6 triliun. Hal ini merupakan sesuatu yang positif dan patut dipertahankan. Namun dia mengingatkan agar jangan berpuas diri.

“Tapi hati-hati kita jangan cepat berpuas diri. Kita harus tetap bekerja keras untuk meningkatkan terus realisasi yang baik ini. Dan momentum ini harus kita jaga dan kita lihat sebagai sebuah peluang. Optimisme ini harus terus kita kelola dengan baik,” pungkasnya.

4. Surplus Neraca Dagang Dinilai Fenomena Semu

Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan, indikasi akumulasi surplus sepanjang tahun 2020 justru menunjukkan adanya fenomena surplus semu.

"Ini yang dimaksud surplus semu adalah kinerja impor lebih turun dibanding ekspor," katanya saat dihubungi MNC Portal di Jakarta, Jumat (15/1/2021).

5. Surplus Neraca Perdagangan 2020 Sebenarnya Buruk

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan bahwa surplus neraca perdagangan di 2020 bukanlah sesuatu yang baik. Bahkan surplus ini menunjukkan ekonomi Indonesia sedang melemah.

"Ini bukan surplus sehat. Ibaratnya ekonomi kita ini kalau lagi lari maraton tapi sedang terkilir kakinya," ujar Lutfi dalam Webinar, Rabu (27/1/2021).

6. Menteri Perdagangan Justru Khawatirkan Suprlus Neraca Perdagangan

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mencatat, sektor perdagangan Indonesia masih pada zona merah atau mengkhawatirkan. Hal itu dilihat dari surplus perdanganan Indonesia 2020 senilai USD21,7 miliar.

"Hari ini (2020) surplus USD21,7 miliar, itu menurut saya sangat mengahawatirkan. Kenapa? Karena kalau kita lihat di situ ekspornya turun 2,6% meski non migas turun hanya 0,5%. Tetapi impornya turun lebih jahu menjadi 17,3%," ujarnya dalam Webinar Selasa (26/1/2021).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini