Mendag Khawatir soal Surplus Neraca Dagang, Ini Kata Pengusaha

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 29 Januari 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 320 2352566 mendag-khawatir-soal-surplus-neraca-dagang-ini-kata-pengusaha-oSZaZtz4iM.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Sektor perdagangan Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan. Namun hal tersebut bukan jaminan sektor perdagangan Indonesia saat ini sehat di tengah Covid-19. Meski neraca perdagangan surplus, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi justru khawatir.

Tercatat, neraca perdagangan Indonesia 2020 surplus enilai USD21,7 miliar.

Lantas, bagaimana kondisi sebenarnya perdagangan saat ini dari pengakuan pelaku industri? Wakil Ketua Umum Kadin Shinta Kamdani mengakui bila memang saat ini kondisi perdagangan belum terlalu sehat.

Baca juga: Mendag Segera Perbaiki Tata Kelola Barang Impor

"Neraca yang surplus karena terlihat juga terjadi impor bahan baku dan bahan penolong yang menurun," kata Shinta kepada Okezone, Kamis (28/1/2021).

Dia menyebut sektor perdagangan harus menjadi salah satu penopang pertumbuhan yang menjanjikan untuk proses pemulihan ekonomi, setidaknya di tahun ini karena outlook perdagangan global tahun amat menjanjikan.

"Bila Indonesia bisa memanfaatkan momentum tersebut, perdagangan tidak hanya akan mendatangkan devisa dari ekspor tetapi juga investasi berbagai jenis sektor ekonomi, khususnya industri manufaktur karena terdapat trend rekonfigurasi supply chain global pasca pandemi sehingga bisa menjadi peluang Indonesia untuk menarik investasi dari proses diversifikasi production basis dalam GVC," ujarnya.

Baca Juga: Neraca Perdagangan 2020 Surplus USD21,7 Miliar, Mendag: Sangat Mengkhawatirkan

Menurut dia, pertumbuhan positif di sektor perdagangan tak akan terjadi secara otomatis, karena investasi hanya bergerak sesuai dengan perhitungan efisiensi biaya produksi, efisiensi supply chain dan stabilitas kegiatan operasinya.

 

"Jadi, kuncinya ada pada sejauh mana Indonesia bisa menciptakan efisiensi supply chain dan keterbukaan investasi ntk investor asing. Kita harus kerja keras mereformasi iklim usaha atau investasi dan mengefisiensikan supply chain secara riil di lapangan, bukan hanya regulasi atau agenda-agenda reformasi semata," ujarnya.

Dia menilai reformasi itu harus dilakukan dari sekarang, karena bila ingin mendatangkan investasi industri bernilai tambah dan hilirisasi melalui perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA).

"Peluang perdagangan untuk mendatangkan industrialisasi yang lebih advance sama besanya untuk FTA yang baru akan kita ratifikasi atau sudah kita ratifikasi dan implementasikan, meskipun akan lebih efektif unntk FTA-FTA yang sudah diratifikasi sehingga manfaat FTA-nya bisa digunakan secara konkrit dalam invetasi maupun efisiensi produksi. Jadi sekarang bolanya di pemerintah, mau gerak cepat atau tidak meratifikasi FTA dan menjalankan reformasi di dalam negeri untuk mengambil peluang-peluang ini," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mencatat, sektor perdagangan Indonesia mengkhawatirkan.

"Hari ini (2020) surplus USD21,7 miliar, itu menurut saya sangat mengahawatirkan. Kenapa? Karena kalau kita lihat di situ ekspornya turun 2,6% meski non migas turun hanya 0,5%. Tetapi impornya turun lebih jahu menjadi 17,3%," ujarnya dalam Webinar Selasa (26/1/2021).

Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 2005-2009 itu menyebut, nilai surplus perdagangan tersebut pertama kali paling tinggi sejak 2012 lalu. Meski begitu, secara agregat masih terjadi pelemahan.

Bahkan dia menilai, jika tidak terjadi keseimbangan antara ekspor dan impor atau impor dalam negeri mengalami penurunan secara drastis, maka dikhawatirkan akan terjadi pelemahan-pelemahan terhadap sektor produksi yang menjadi basis konsumsi di dalam negeri.

"Kalau saya lihat lagi ke dalam, apa saja yang menjadi koefisien dari surplus tersebut menunjukan ini terjadi pelemahan karena barang impor kita yang kita impor itu 70,2% adalah bahan baku dan bahan penolong, artinya kalau kita turun 17,3% impor nya, saya takut akan terjadi pelemahan-pelemahan terhadap sektor produksi yang dikonsumsi di dalam negeri," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini