Mendag Segera Perbaiki Tata Kelola Barang Impor

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 26 Januari 2021 14:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 26 320 2351073 mendag-segera-perbaiki-tata-kelola-barang-impor-MJTUt5MzYP.jpg Neraca Dagang 2020 Surplus. (Foto: Okezone.com/Pelindo 1)

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan arus barang masuk ke Indonesia atau impor mencapai 70,3% sepanjang 2021. Langkah itu didasarkan pada kebutuhan industri dalam negeri.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyebut, sejumlah industri dalam negeri masih bergantung pada komoditas impor. Untuk menggenjot kinerja industri Tanah Air, pemerintah harus menyediakan kebutuhan konsumsi atau permintaan tersebut.

Baca Juga: Neraca Perdagangan 2020 Surplus USD21,7 Miliar, Mendag: Sangat Mengkhawatirkan

"Jadi apa yang akan saya kerjakan adalah satu memastikan bahwa seluruh arus barang ke Indonesia kembali normal atau lebih baik dari 2020. Saya akan memperbaiki tata kelola di Kemendag dan pastikan 70,3% dari barang impor siap melayani industri lagi," ujarnya Selasa (26/1/2021).

Meski begitu, upaya memperlancar masuknya arus barang ke Indonesia, tak semata dilakukan oleh Kemendag. Lutfi menyebut, capur tangan dari Kementerian dan lembaga lain akan mempermudah target tersebut.

Baca Juga: Neraca Dagang Surplus USD21,7 Miliar, Kadin: Stabilitas di Tengah Resesi

Secara khusus, Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu akan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan untuk memberikan insentif atau kemudahan agar proyeksi yang sudah dia tetapkan dapat direalisasikan.

“Kalau industri siap, konsumsi harus siap. Ini hal yang harus saya bicarakan dengan Kementerian Perindustrian dan terpenting ke Kementerian Keuangan karena kita memerlukan insentif, tak hanya finansial tetapi juga yang bisa mendorong pulihnya kepercayaan pasar,” ujar dia.

Lutfi mengakui, jika sektor perdagangan menjadi sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Meski serplus perdanganan Indonesia sepanjang 2020 senilai USD21,7 miliar, dia menilai hal itu masih berada pada zona merah atau mengkhawatirkan.

"Hari ini (2020) surplus USD21,7 miliar itu menurut saya sangat mengkhawatirkan. Kenapa? Karena kalau kita lihat di situ ekspor-nya turun 2,6% meski non migas turun hanya 0,5%. Tetapi impornya turun lebih jahu menjadi 17,3%," kata Lutfi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini