Share

Soal Penurunan Standar Gula Kristal Putih, Begini Kata Pengusaha

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Selasa 02 Maret 2021 13:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 02 320 2370845 soal-penurunan-standar-gula-kristal-putih-begini-kata-pengusaha-wlwqGFVFuo.jpg Rencana Penurunan Standar Gula Kristal Putih. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengaku belum mendapat penjelasan terkait perubahan standar gula kristal putih.

Diketahui bahwa pemerintah berencana menurunkan standar International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) gula kristal putih (GKP) menjadi 200. ICUMSA merupakan parameter nilai kemurnian yang berkaitan dengan warna gula diukur berdasarkan standar internasional atau IUI.

Baca Juga: Kendala Industri Gula, Investor Sulit Cari Lahan di Luar Jawa

"Saya belum dapat penjelasan yang pasti tentang itu kenapa berubah. Apa karena penyatuan saja, penyatuan pasar begitu supaya seragam. Saya belum tahu," ujar Direktur Eksekutif AGI Budi Hidayat ujarnya pada Market Review IDX Channel, Selasa (2/3/2021).

Menurut dia, industri dalam negeri merasa tidak ada urgensi dalam menurunkan standar ICUMSA gula kristal putih. Hal ini karena produksi dalam negeri belum bisa memenuhi konsumsi dalam negeri.

Baca juga: Stok Melimpah, Pelaku Usaha Kuliner Didorong Beli Gula Lokal

"Komoditas gula masih prospektif karena jumlah konsumsi masih belum bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri. Jadi dengan ICUMSA 300 pun masih dicari karena jumlah konsumsi masih lebih besar dari jumlah produksi," ungkapnya.

Budi melanjutkan, pemerintah perlu mempertimbangkan hal tersebut mengingat ada biaya investasi baru yang harus dikeluarkan sebesar Rp200-Rp300 miliar. Di sisi lain, jika harga jual tidak naik maka akan merugikan produsen gula.

"Memang ada perbaikan kualitas karena warnanya jadi lebih putih. Tetapi kalau tidak disesuaikan dengan harga jualnya, ini hanya akan menambah biaya saja," jelasnya.

Menurut dia, proses penurunan ICUMSA menjadi 200 juga membutuhkan waktu cukup lama berkisar antara 2-3 tahun. "Masih ada 43 pabrik yang menggunakan model lama. Jadi kalau mau mengubah butuh waktu minimal 2 tahun," tandasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini