Laba HM Sampoerna Anjlok 37,95%, Penjualan Rokok Lesu saat Covid-19

Rabu 24 Maret 2021 13:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 24 278 2383251 laba-hm-sampoerna-anjlok-37-95-penjualan-rokok-lesu-saat-covid-19-10YTZo5rGd.jpg Rokok (Shutterstock)

JAKARTA – Emiten produsen rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan laba bersih Rp8,581 triliun pada akhir tahun 2020 atau turun 37,95% dibanding akhir tahun 2019 yang mencatatkan laba bersih Rp13,721 triliun. Akibatnya, laba per saham dasar turun menjadi Rp74, dibandingkan akhir tahun 2019 yang laba per saham Rp118.

Mengutip Neraca, kemudian total penjualan bersih sepanjang tahun 2020 tercatat sebesar Rp92,425 triliun atau turun 13,2% dibanding tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp106,05 triliun. Tapi, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp73,653 triliun atau turun 7,8% dibanding akhir tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp79,932 triliun. Sehingga laba kotor turun 28,14% menjadi Rp18,771 triliun.

 Baca juga: Penjualan Menurun, HM Sampoerna Bikin Strategi Baru

Sedangkan pada sisi ekuitas tercatat sebesar Rp30,241 triliun atau turun 15,24% dibanding akhir tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp35,679 triliun. Adapun total kewajiban tercatat sebesar Rp19,432 triliun, atau naik 27,64% dibanding akhir tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp15,223 triliun. Hasilnya, aset perseroan tercatat sebesar Rp49,674 triliun atau turun 2,41% dibanding akhir tahun 2019 yang tecatat sebesar Rp50,902 triliun.

Sementara arus kas diperoleh dari aktivitas operasi tercatat Rp11,953 triliun atau turun 30,28% dibanding akhir tahun 2020 yang tercatat Rp17,145 triliun. Guna menggenjot pertumbuhan penjualan di tahun ini, HM Sampoerna tingkatkan penjualan segmen sigaret kretek tangan (SKT) sebagai salah satu upaya memulihkan kinerja keuangan. Tercatat sepanjang tahun 2020, perseroan menjual 79,5 miliar batang atau turun 19,3% dibandingkan dengan penjualan rokok 2019 sebesar 98,5 miliar batang.

 Baca juga: Penjualan Rokok Anjlok 19,3%, Begini Strategi HM Sampoerna

Sejalan dengan itu, HMSP juga mengalami penurunan pangsa pasar sepanjang 2020 menjadi hanya sebesar 28,8% dari total penjualan rokok domestik sebesar 276,3 miliar batang. Sebelumnya, pangsa pasar HMSP pada 2019 sebesar 32,2% dari total penjualan rokok domestik sebesar 305,7 miliar batang.

Menurut Presiden Direktur HM Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai bagi segmen SKT pada tahun ini dapat membantu kinerja perseroan dan melindungi para pekerja.

“Keputusan pemerintah itu memberikan peluang bagi perseroan untuk memulihkan kinerja. Oleh karena itu, perseroan akan meningkatkan pekerja di kategori itu, sekaligus memacu penjualan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, segmen SKT menggunakan lebih banyak tembakau dan memiliki jumlah pekerja 200 kali lebih banyak daripada segmen sigaret kretek menggunakan mesin atau SKM. Pemerintah sendiri melalui Kementerian Keuangan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 12,5% untuk rokok sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek mesin (SKM) yang berlaku sejak awal Februari 2021. Kendati demikian, untuk rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) tidak mengalami perubahan tarif cukai.

Selain itu, peluang pemulihan kinerja melalui segmen itu pun didukung oleh pangsa pasar perseroan di segmen SKT yang hingga kuartal III/2020 masih sekitar 38,7%. Trumpaitis menjelaskan bahwa pelemahan ekonomi Indonesia tercermin dari menurunnya daya beli masyarakat telah berdampak pada bisnis perseroan.

“Volume penjualan kami turun, karena di secara industri pun juga turun, Jadi tahun lalu bukan tahun yang mudah bagi Indonesia dan bagi kami juga,” ujar Trumpaitis.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini