Cerita Menkes BGS 3 Kali Berada di Pusaran Krisis Ekonomi: Kebetulan atau Kesialan

Binti Mufarida, Jurnalis · Jum'at 26 Maret 2021 15:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 26 320 2384536 cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan-zF78L2NJof.jpg Menkes BGS (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menceritakan bahwa sudah tiga kali menjadi pejabat pemerintahan yang tidak kali berada pada pusaran krisis ekonomi.

“Saya enggak tahu kebetulan atau kesialan sudah mengalami tiga kali krisis ekonomi di Indonesia. Jadi tahun 1998, 2008-2013, dan sekarang di 2020-2021 ini. Nah, kebetulan yang krisis-krisis sebelumnya saya benar-benar ada di tengah pusaran,” ungkap BGS dalam Manager Forum ke-55 secara virtual, Jumat (26/3/2021).

BGS mengatakan bahwa krisis ekonomi terutama tahun 1998 yang sangat menghancurkan ekonomi Indonesia dan juga ekonomi 2008-2013 itu penyebabnya adalah krisis keuangan. “Jadi dimulai oleh krisis keuangan kemudian menjadi krisis ekonomi besar,” katanya.

Baca Juga: Cerita Sri Mulyani Ekonomi Indonesia Banyak Alami Shock 

Lalu, akibatnya apa? “Akibatnya hampir semua pejabat kita, hampir seluruh pembuat kebijakan di negeri kita memiliki memori, bahwa respons kebijakannya atau polisi respons yang menghadapi krisis ekonomi besar seperti ini,” kata BGS.

Namun, BGS mengatakan bahwa pada saat dia menjadi Ketua KPC PEN, pemulihan ekonomi harus sejalan dengan penanggulangan pandemi. “Padahal waktu saya menjadi Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi yang diminta pak Presiden di KCP PEN istilah Pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi," katanya.

BGS juga menegaskan bahwa krisis ekonomi saat ini penyebabnya adalah krisis kesehatan. “Saya sampaikan bahwa krisis ekonomi yang sekarang berbeda karena penyebabnya bukan krisis keuangan. Jadi bukan masalah likuiditas perbankan, interest rate kredit, bukan. Masalahnya adalah krisis kesehatan," ujarnya.

Kenapa krisis kesehatan bisa demikian besar dampaknya ke ekonomi? “Karena kebetulan krisis kesehatan ini harus direspons dengan lockdown atau pembatasan pergerakan, padahal ekonomi dunia dan khususnya ekonomi Indonesia itu masih sangat bergantung kepada pergerakan, pada kontak fisik,” kata BGS.

“Sehebat-hebatnya kita untuk melakukan e-commerce tetap commerce lewat pasar lebih besar volumenya,” tambah BGS.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini