JAKARTA – Aksi pungutan liar (pungli) preman di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok di kalangan membuat sopir resah. Selain itu, dampak preman yang melakukan pungli ini menganggu biaya logistik.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pungli ini akan berdampak pada high cost economy dan kompensasi harga jual barang jadi lebih tinggi.
“Dengan estimasi satu hari saja Rp6,5 juta berarti selama 1 tahun Rp2,37 miliar. Itu di satu depo, belum di pelabuhan atau depo lainnya. Dari mulai barang keluar pabrik sampai ke pelabuhan berapa rantai punglinya? Itulah salah satu penyebab high cost economy atau ekonomi berbiaya tinggi,” ungkapnya kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (13/6/2021).
Baca Juga: Sri Mulyani Buktikan Biaya Logistik RI Tertinggi di Asean
Bhima menjelaskan, jika masalah pungli ini tidak segera diberantas akan menekan daya saing produk Indonesia lantaran kalah bersaing dalam hal harga jual di level internasional. Perihal tersebut akan berdampak pula pada masyarakat yang harus menanggung biaya beli yang meningkat.
“Di level internasional maka hal ini dapat menyebabkan hilangnya kompetisi produk asal Indonesia karena kalah bersaing dalam hal harga jual. Masyarakat juga kena dampaknya,” katanya.
Baca Juga: Tanjung Priok Memanas, Sejumlah Preman Pecahkan Kaca Truk Ekspedisi
Bhima menuturkan, pemerintah sudah memberikan dukungan pada sektor logistik guna memperlancar proses keberlangsungan. Namun dalam hal ini ia mempertanyakan biaya logistik yang masih di level 23,5%. Dia juga memprediksi bahwa adanya pungli pada sopir truk memberikan dampak ke biaya logistik.
“Biaya logistik yang masih mencapai 23,5% dari PDB meski pemerintah telah membangun berbagai infrastruktur patut jadi pertanyaan, kuat dugaan pungli adalah bagian dari sulitnya penurunan biaya logistik” jelasnya.