JAKARTA - PT PLN (persero) akan menyelaraskan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dengan tingkat suplai dan permintaan listrik terlebih di wilayah timur Indonesia. Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, kondisi pasokan listrik di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan mengalami kelebihan suplai hingga 2030.
Menurut Zulkifli jika pembangkit EBT dibangun di wilayah tersebut, akan kian menambah kondisi kelebihan suplai yang saat pandemi Covid-19 yang membuat permintaan listrik turun.
"Pengembangan EBT sebaiknya memperhatikan keselarasan supply demand. Artinya kalau di satu daerah suplai listriknya sudah lebih, kita tidak bangun EBT di situ, karena menambah over supply," kata Zulkifli di Jakarta, Rabu (14/7/2021).
Baca Juga: Ini Nasib Penjualan Listrik PLN Imbas PPKM Darurat
Zulkifli mengungkapkan, pasokan tidak akan ada tanpa permintaan. Oleh sebab itu, dia menyebut, kampanye penggunaan kompor induksi dan mobil listrik menjadi upaya meningkatkan permintaan listrik.
Baca Juga: Utang Rp500 Triliun, Erick Thohir Khawatir Nasib PLN seperti Garuda
Lebih lanjut Zulkifli mengatakan bahwa pengembangan pembangkit EBT akan diutamakan di Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara diperkirakan ada potensi sekitar 17 megawatt (MW) yang dapat dikembangkan.
"Kita sebaiknya tidak memaksakan EBT di tempat yang over supply, karena ujungnya harus dibayar negara. Kita bisa membuat Undang-Undang EBT yang pada akhirnya tidak mempertimbangkan keselarasan supply demand, dan PLN diwajbkan membali. Itu pilihan," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.