JAKARTA - Indonesia berhasil memperkecil defisit neraca perdagangan dengan China. Selain itu, Indonesia juga memperbesar surplus perdagangan dengan Amerika Serikat pada semester I/2021 atau periode Januari-Juni 2021 atau ketika pandemi COVID-19 masih melanda hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia.
"Pada semester I tahun ini, defisit kita ke RRT itu 3,19 miliar dolar AS. Sejak 2005. Ini mungkin defisit perdagangan kita yang terendah dengan China," kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dilansir dari Antara, Kamis (5/8/2021).
Baca Juga: Pulau Jawa dan Sumatera Penopang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Selain itu, lanjut Mendag, neraca perdagangan dengan Amerika Serikat juga mengalami surplus yang diprediksi lebih besar, di mana sepanjang 2020 surplus dengan AS mencapai 10 miliar dollar AS, sedangkan hingga semester I/2021, surplus perdagangan dengan AS mencapai 6,55 miliar dolar AS.
Jadi, Mendag menyampaikan, apabila konsisten, maka kedua angka tersebut, yakni perdagangan dengan China mungkin defisitnya mencapai 6,4 miliar dolar AS dan surplus dengan AS akan mencapai 13 miliar dolar AS hingga akhir 2021
Baca Juga:Ekonomi Tumbuh 7,07%, Wakil Ketua Banggar: Bersyukur Keluar dari Resesi
"Dengan demikian, yang satu (dengan China) akan menjadi defisit terendah dalam delapan hingga sembilan tahun terakhir, dan yang satu (dengan AS) merupakan salah satu surplus yang terbesar," tukas Mendag.
Meskipun, perdagangan dengan Singapura, RI masih mengalami defisit 2 miliar dolar AS, namun perdagangan RI dengan beberapa negara masih terbilang surplus, misalnya dengan Jepang surplus 1,41 miliar dolar AS.