Dolar AS Menguat Tipis di Tengah Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi China dan Penyebaran Varian Delta

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 18 Agustus 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 278 2457026 dolar-as-menguat-tipis-di-tengah-kekhawatiran-perlambatan-ekonomi-china-dan-penyebaran-varian-delta-v1QB79hyiM.jpg Dolar Amerika Serikat Menguat. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Dolar menguat pada akhir perdagangan Selasa, didukung permintaan mata uang safe-haven. Pasalnya, investor khawatir tentang konflik Afghanistan, ekonomi China yang melambat dan penyebaran virus corona varian Delta.

Namun demikian, kenaikan dolar AS terbatasi karena menurunnya penjualan ritel AS. Tetapi dolar masih mendapat sentimen positif dari kenaikan produksi industri yang lebih tinggi dari perkiraan.

Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Penurunan Data Ekonomi China

"Laporan penjualan ritel pagi ini berfungsi untuk mengonfirmasi bahwa konsumen AS, pelanggan terbesar dan paling dapat diandalkan di dunia menjadi lebih berhati-hati," kata Kepala Strategi Pasar Cambridge Global Payments, Karl Schamotta, dilansir dari Reuters, Rabu (18/8/2021).

"Ini dikombinasikan dengan bukti perlambatan ekonomi China dan gejolak politik yang sedang berlangsung di Afghanistan, mendorong investor untuk melunasi posisi pinjaman yang didanai dolar dan menarik uang keluar dari pasar berisiko tinggi," tambahnya.

Baca Juga: Indeks Dolar AS Turun 0,3% Selama Seminggu Perdagangan

Sebagai informasi, Taliban di Afghanistan mengatakan bahwa mereka menginginkan hubungan damai dengan negara-negara lain dan akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam. Hal ini terjadi sejak penyitaan mereka di Kabul. Namun, banyak investor khawatir dengan nada damai Taliban.

Pada perdagangan sore, indeks dolar AS naik 0,6% menjadi 93.119. Euro, komponen terbesar dalam indeks dolar, turun 0,6% menjadi USD 1,1709.

Sementara itu, dolar Selandia Baru jatuh ke level terendah dalam tiga minggu setelah negara itu mengidentifikasi kasus Covid-19 pertamanya sejak Februari, sehingga mendorong pemerintah mengumumkan langkah-langkah penguncian jangka pendek yang baru.

Mata uang safe-haven seperti yen Jepang turun terhadap dolar yang naik 0,3% menjadi 109,56 yen. Franc Swiss, safe haven lainnya, juga jatuh terhadap dolar, yang terakhir naik 0,3% pada 0,9149 franc.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini